Infaq & Shadaqah memuat 95 sub-bahasan dengan 637 hadits di dalamnya, dan berada di bawah Zakat dan Sedekah.
Riwayatnya bersumber dari Imam Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Bukhari, dan 6 kitab lainnya. Tiap kutipan tampil lengkap — teks Arab beserta terjemahannya — disertai nama kitab dan nomor hadits agar dapat dicocokkan dengan kitab aslinya. Bahasan yang diriwayatkan lewat lebih dari satu jalur ditampilkan seluruhnya sebagai penguat, tidak diringkas menjadi satu.
Kerangka tema selengkapnya dapat dijelajahi lewat beranda.
Telah menceritakan kepada kami ['Uqbah bin Mukram Al 'Ammiy Al Bashri] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin 'Isa Al Khazzar Al Bashri] dari [Yunus bin 'Ubaid] dari [Al Hasan] dari [Anas bin Malik] dia berkata, Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya shadaqah itu menghindarkan dari murka Allah dan menghindarkan seseorang dari meninggal dalam kedaan yang buruk (su'ul khatimah)." Abu 'Isa berkata, melalui jalur ini, ini adalah hadits gharib.
Telah menceritakan kepada kami [Abu An Nadhr] telah menceritakan kepada kami [Al Mubarak bin Fadhalah] dari [Al Hasan] dari [Abu Hurairah], dia berkata; -Aku tidak mengatahui ini kecuali dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, - beliau bersabda: "Setiap ruas tulang anak Adam ada kewajiban untuk disedekahi, " maka hal tersebut membuat sulit kaum muslimin, lalu beliau shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Sesungguhnya salam kamu terhadap hamba-hamba Allah adalah sedekah, menyingkirkan sesuatu yang menghalangi manusia dari jalan adalah sedekah, dan amar Ma'ruf adalah sedekah dan nahi munkar adalah sedekah, " dan beliau menyebutkan beberapa hal seperti ini yang tidak aku hafal.
Telah menceritakan kepada kami ['Arim] dan ['Affan] keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami [Mahdi bin Maimun] dari [Washil] budak Abu Uyainah, dari [Yahya bin 'Uqail] dari [Yahya bin Ya'mar] dari [Abul 'Aswad Ad Dili] dari [Abu Dzar] berkata, "Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Setiap ruas tulang kalian berkewajiban untuk disedekahi pada setiap harinya, setiap tasbih adalah sedekah, tahlil adalah sedekah, takbir adalah sedekah, tahmid adalah sedekah, menyuruh untuk kebaikan adalah sedekah dan mencegah dari yang munkar adalah sedekah. Dan itu semua bisa kalian dapatkan dengan dua rakaat shalat dluha."
Telah bercerita kepada kami [Ishaq bin Manshur] telah mengabarkan kepada kami ['Abdur Rozaq] telah mengabarkan kepada kami [Ma'amr] dari [Hammam] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap ruas tulang pada manusia wajib atasnya shadaqah dan setiap hari terbitnya matahari di mana seseorang mendamaikan antara manusia maka terhitung sebagai shadaqah".
Telah bercerita kepada kami [Ishaq bin Nashr] telah bercerita kepada kami ['Abdur Rozzaq] dari [Ma'mar] dari [Hammam] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Pada setiap ruas tulang ada kewajiban shadaqah. Setiap hari dimana seseorang terbantu dengan tunggangannya yang mengangkat atau mengangkut barang-barangnya di atasnya adalah shadaqah. Ucapan yang baik adalah shadaqah dan setiap langkah yang dilakukan seseorang menuju shalat adalah shadaqah dan orang yang menunjuki jalan adalah shadaqah".
Telah bercerita kepadaku [Ishaq] telah mengabarkan kepada kami ['Abdur Rozzaq] telah mengabarkan kepada kami [Ma'mar] dari [Hammam] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap ruas tulang pada manusia wajib atasnya shadaqah dan setiap hari terbitnya matahari seseorang yang mendamaikan antara dua orang yang bertikai adalah shadaqah dan menolong seseorang untuk menaiki hewan tunggangannya lalu mengangkat barang-barangnya ke atas hewan tungganyannya adalah shadaqah dan ucapan yang baik adalah shadaqah dan setiap langkah yang dijalankan munuju shalat adalah shadaqah dan menyingkirkan sesuatu yang bisa menyakiti atau menghalngi orang dari jalan adalah shadaqah".
Telah menceritakan kepada Kami [Hafsh bin Umar], telah menceritakan kepada Kami [Syu'bah] dari ['Amr bin Murrah], dari [Abdullah bin Al Harits] dari [Abu Katsir] dari [Abdullah bin 'Amr], ia berkata; Rasulullah shallAllahu wa'alaihi wa sallam berkhutbah, beliau bersabda: "Jauhilah sifat pelit, karena sesungguhnya yang membinasakan orang sebelum kalian adalah sifat pelit. Mereka diperintahkan untuk bersifat bakhil maka merekapun bersifat bakhil dan mereka diperintahkan untuk memutuskan hubungan kekerabatan maka merekapun memutuskan hubungan kekerabatan, dan mereka diperintahkan untuk berbuat dosa maka merekapun berbuat dosa."
Telah menceritakan kepada kami [Ammar bin Muhammad] dari [Ibrahim] dari [Abu Al Ahwash] dari [Abdullah] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Hendaklah salah seorang dari kalian menjaga wajahnya dari api neraka meskipun dengan sekerat kurma."
Telah menceritakan kepada kami Abdullah ia berkata; Aku membacakan kepada ayahku Telah menceritakan kepada kami [Ali bin 'Ashim] telah mengabarkan kepada kami [Ibrahim bin Muslim Al Hajari] dari [Abu Al Ahwash] dari [Abdullah] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Hendaklah salah seorang kalian menjaga wajahnya dari api neraka walaupun dengan (sedekah) satu belahan kurma."
Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Numair] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Isma'il] dan [Ya'la bin Ubaid] berkata; telah menceritakan kepada kami [Isma'il] dari [Nafi'] dari [Anas] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak seorang pun di hari kiamat kelak, baik orang kaya ataupun orang miskin kecuali dia menginginkan sekiranya di dunia dulu ia hanya diberikan makanan pokok saja." Ya'la menyebutkan, "di dunia."
Telah menceritakan kepada kami [Waki'] telah menceritakan kepada kami [Al 'A'masy] dari [Abu Sufyan] dari [Jabir] berkata; pamanku melakukan pengobatan dengan ruqyah (pengobatan dengan cara membaca bacaan-bacaan ayat suci dan doa yang disyariatkan) dari sengatan kalajengking. Tatkala Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarangnya, dia mendatanginya dan berkata; Wahai Rasulullah, sesungguhnya anda telah melarang dari ruqyah, bagaimana jika saya melakukan ruqyah dari sengatan kalajengking?. Lalu beliau bersabda: "Barangsiapa yang bisa memberi manfaat terhadap saudaranya, silahkan kerjakanlah".
Telah bercerita kepada kami [Abu Mu'awiyah] telah bercerita kepada kami [Al 'A'masy] -lewat jalur periwayatan lain-Dan telah menceritakan kepada kami [Ibnu Numair] dari [Abu Sufyan] dari [Jabir] berkata Rasulullah melarang ruqa (perlindungan orang sakit dengan membaca dzikir yang disyariatkan). Ibnu Numair berkata dalam hadisnya, lalu pamanku mendatangi (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) dan dia sedang melakukan ruqyah dari sengatan kalajengking. (Jabir bin Abdullah Radliyallahu'anhuma) berkata; lalu datanglah keluarga 'Amr bin Hazm kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan mereka berkata; Wahai Rasulullah, kami memiliki cara ruqo (bentuk jamak, plural dari ruqyah) untuk melindungi dari sengatan kalajengking, sedangkan anda melarang cara ruqo (bentuk jamak, plural dari ruqyah). (Jabir bin Abdullah Radliyallahu'anhuma) berkata; lalu mereka mempraktekkannya di hadapan (Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam), lalu beliau bersabda: "Saya kira tidak mengapa. Barangsiapa yang bisa bermanfaat bagi saudaranya maka lakukanlah!"
Telah mengabarkan kepada kami [Ya'qub bin Humaid] telah menceritakan kepada kami [Abdul Aziz bin Muhammad] dari [Ibnu Akhi Az Zuhri] dari [Az Zuhri] ia berkata; Jibril Aalaihissalam berkata: Tidaklah di muka bumi ini terdapat pemilik sepuluh gedung kecuali saya (Aalaihissalam) Telah membolak-balikkan mereka, maka saya tidak mendapat seorang pun yang lebih banyak berinfak selain Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Telah bercerita kepada kami [Abu Bakar Al Hanafi] telah bercerita kepada kami [Abdul Hamid bin Ja'far] dari [Shalih bin Abu 'Arib] dari [Katsir bin Murrah Al Hadlrami] dari ['Auf bin Malik Al Asyja'i] berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam keluar menghampiri kami, beliau membawa tongkat dan di masjid ada tandan kurma digantung yang ada pelepahnya yang ada kurmanya yang sudah rusak, beliau menunjuk tandan kurma dengan tongat yang ada ditangan beliau, beliau bersabda: "Andai pemilik sedekah ini berkehendak pastilah ia bersedekah dengan yang lebih baik darinya, sesungguhnya pemilik sedekah ini sungguh akan makan kurma rusak pada hari kiamat." Berkata 'Auf: Kemudian Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam menghadap ke kami lalu bersabda: "Ingatlah, demi Allah wahai penduduk Madinah, kalian akan meninggalkannya selama empatpuluh tahun untuk 'awafi." Aku berkata: Allahu a'lam, maksud beliau burung dan binatang buas. Berkata 'Auf: Kami dulu berkata: Inilah yang disebut orang ajam sebagai karari.
Telah bercerita kepada kami [Yahya bin Sa'id] dari ['Abdul Hamid Abu Ja'far] berkata: telah bercerita kepadaku [Shalih bin Abu 'Arib] dari [Katsir bin Murrah Al Hadlrami] dari ['Auf bin Malik Al Asyja'i] berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam keluar menghampiri kami atau masuk (menghampiri kami) dan kami tengah berada di masjid, di tangan beliau ada tongkat, seseorang menggantungkan tandan kurma yang sudah rusak, beliau menusukkan tongat beliau pada tandan kuram itu lalu bersabda: "Andai pemilik sedekah ini berkehendak pastilah ia bersedekah dengan yang lebih baik darinya, sesungguhnya pemilik sedekah ini sungguh akan makan kurma rusak pada hari kiamat."
Telah menceritakan kepada Kami [Nashr bin 'Ashim Al Anthaki], telah menceritakan kepada Kami [Yahya yaitu Al Qaththan] dari [Abdul Hamid bin Ja'far], telah menceritakan kepadaku [Shalih bin Abu 'Arib] dari [Katsir bin Murrah] dari ['Aur bin Malik], ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menemui Kami di masjid dengan membawa tongkat ditangannya, sementara seseorang telah menggantungkan kurma basah yang rusak, kemudian beliau menusuk tandan tersebut dengan tongkat dan berkata: "Kalau pemilik sedekah ini hendak bersedekah maka ia bersedekah dengan kurma yang lebih baik darinya." Dan beliau bersabda: "Sesungguhnya pemilik sedekah ini akan makan kurma basah dan rusak di Hari Kiamat."
Telah menceritakan kepada kami [Abdurrazzaq] telah mengabarkan kepada kami [Ma'mar] dari [Abu Ishaq] dari [Kumail bin Ziyad] dari [Abu Hurairah], dia berkata; Aku pernah berjalan-jalan bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di kebun kurma milik seorang sahabat anshar, lalu beliau bersabda: "Wahai Abu Hurairah, telah celaka orang yang berbanyak-banyak kecuali orang yang berkata begini dan begini dan begini, " beliau ulangi hingga tiga kali sambil membolak-balikan kedua telapak tangannya ke kanan dan ke kiri serta ke depan, beliau bersabda: "dan sedikit dari mereka yang tidak seperti itu, " kemudian beliau berjalan lagi sesaat kemudian berkata: "Wahai Abu Hurairah, maukah engkau bila aku tunjukkan dengan simpanan surga?" aku berkata; "Mau wahai Rasulullah, " beliau bersabda: "Ucapkanlah: LAA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH LAA MALJA`A MINALLAH ILLA ILAIHI (Tiada daya dan upaya kecuali karena pertolongan dari Allah, dan tidak ada tempat berlindung dari Allah kecuali kepada-Nya)." Kemudian beliau berjalan lagi sesaat dan berkata; "Wahai Abu Hurairah, tahukah kamu apa hak hamba atas Allah dan apa hak Allah atas hamba?" aku berkata; "Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu, " beliau bersabda: "Sesungguhnya hak Allah atas seorang hamba adalah beribadah kepada-Nya dan tidak berbuat syirik kepada-Nya, maka jika mereka telah melakukan semua itu, telah menjadi kewajiban bagi Allah untuk tidak menyiksa mereka."
Telah menceritakan kepada kami [Al Aswad] telah menceritakan kepada kami [Kamil] telah menceritakan kepada kami [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah], dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Sesungguhnya nanti orang-orang yang kaya akan menjadi orang-orang yang hina, kecuali orang yang berkata; 'Begini, begini, dan begini.'" Kamil berkata; "Beliau mengatakan hal itu dengan tangannya ke kanan dan kirinya dan kedepannya."
Telah menceritakan kepada kami [Yunus] telah menceritakan kepada kami [Laits] dari [Muhammad] dari [bapaknya] dan selainnya dari [Abu Hurairah] dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Pada hari kiamat kelak orang yang berlebih-lebihan berada di bawah, kecuali orang yang berkata begini dan begini."
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abdullah] berkata; telah menceritakan kepada kami [Kamil] dari [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya orang yang berbanyak-banyakan adalah sebenarnya mereka adalah mempersedikit kecuali orang yang berkata seperti ini dan seperti ini dan seperti ini"
Telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Ibnu 'Ajlan] aku mendengar [bapakku] menceritakan dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Orang yang berbanyak-banyak (kaya) mereka akan hina pada hari kiamat, kecuali orang yang berkata dengan hartanya; 'Sekian dan sekian, sekian dan sekian, sekian untuk di depan, kanan, kiri dan belakangnya.'"
Telah menceritakan kepada kami [Ziyad bin Ar Rabi' Abu Khidasy] telah menceritakan kepada kami [Washil] mantan budak Abu 'Uyainah, dari [Basysyar bin Saif Al Jarmi] dari ['Iyadh bin Ghuthaif] berkata; Kami menemui [Abu Ubaidah bin Al Jarrah] untuk menjenguknya karena sakit yang menimpanya, sedangkan istrinya Tuhaifah duduk di dekat kepalanya. Aku bertanya; "Bagaimana kondisi Abu Ubaidah tadi malam?" istrinya menjawab; "Demi Allah! dia melewati malamnya dengan mendapatkan pahala." Abu Ubaidah berkata; "Aku melewati malam dengan tidak mendapatkan pahala." sebelumnya dia menghadapkan wajahnya ke tembok, lalu menghadap kepada orang-orang. Dia berkata lagi; "Tidakkah kalian menanyakan tentang apa yang baru aku katakan?" Mereka menjawab; "sungguh sangat menggelitik kami perkataanmu tadi sehingga kami harus menanyakannya kepadamu." Dia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menginfaqkan hartanya yang utama di jalan Allah, maka baginya tujuh ratus pahala, dan barangsiapa memberikan nafkah untuk dirinya dan keluarganya atau menjenguk orang yang sakit atau menyingkirkan duri maka satu kebaikan baginya dilipatkan menjadi sepuluh kali lipat yang semisalnya. Puasa adalah benteng selama tidak merusaknya (dengan maksiat), dan barangsiapa yang diuji oleh Allah dengan suatu ujian di tubuhnya maka baginya dihapuskan dosanya"."
Telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Harun] telah memberitakan kepada kami [Hisyam] dari [Washil] dari [Al Walid bin Abdurrahman] dari ['Iyadh bin Ghuthaif] berkata; Kami menemui [Abu 'Ubaidah] untuk menjenguknya. Dia berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa berinfak harta yang utamanya di jalan Allah maka dia akan mendapatkan tujuh ratus kali lipat. Barangsiapa berifak untuk dirinya, atau untuk keluarganya, atau menjenguk orang sakit, atau menyingkirkan duri di jalanan maka setiap kebaikan itu akan dibalas sepuluh kali lipatnya. Puasa adalah tameng selama dia tidak merusaknya. Barangsiapa diuji Allah dengan suatu ujian pada tubuhnya maka itu menjadi penghapus (dsa) baginya." Telah menceritakan kepada kami [Yazid] telah memberitakan kepada kami [Jarir bin Hazim] telah menceritakan kepada kami [Basyar bin Abu Saif] dari [Al Walid bin Abdurrahman] dari ['Iyadh bin Ghuthaif] berkata; "Kami menemui [Abu 'Ubaidah].." lalu menyebutkan hadis secara lengkap.
Telah menceritakan kepada kami [Abdurrazzaq] telah mengabarkan kepada kami [Ma'mar] dari [Az Zuhri] dari [Humaid bin Abdurrahman] dari [Abu Hurairah], dia berkata; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Barangsiapa menginfaqkan Zaujain dari hartanya (sesuatu yang berpasangan seperti dua kuda, atau dua budak, pent) di jalan Allah, maka ia akan dipanggil dari setiap pintu-pintu surga. Sesungguhnya surga memiliki beberapa pintu, barangsiapa dari ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat, ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah, ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad dan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Royyan." Lalu Abu Bakar berkata; "Wahai Rasulullah, setiap dari mereka dipanggil dari pintu yang sesuai dengan keahliannya, lalu apakah ada orang yang akan dipanggil dari setiap pintu?" Beliau menjawab: "Ya, dan aku berharap engkau salah satu dari mereka."
Telah menceritakan kepada kami [Mu'awiyah] telah menceritakan kepada kami [Abu Ishaq] -yaitu Al Fazari- dari [Al A'masy] dari [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menafkahkah sepasang, -atau beliau mengatakan: - "dua pasang dari hartanya, -aku melihatnya beliau bersabda: - "di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh penjaga surga; 'Wahai muslim, perbuatan ini baik, kemarilah." Abu bakr berkata; "Laki-laki tersebut tidak memenuhinya, " lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada harta yang memberiku manfaat kecuali harta Abu Bakar." Abu Hurairah berkata; Maka menangislah Abu Bakar, lalu ia berkata; "Apakah Allah akan memberiku manfaat kecuali karena engku, apakah Allah akan memberiku manfaat kecuali karena engaku, apakah Allah akan memberiku manfaat kecuali karena engaku."
Telah menceritakan kepada kami [Mu'awiyah bin Amru] Telah menceritakan kepada kami [Za`idah] Telah menceritakan kepada kami [Ar Rukain bin Ar Rabi' bin Amilah Al Fazari] dari [bapaknya] dari [Yusair bin Amilah] dari [Khuraim bin Fatik Al Asadi] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barangsiapa yang mengeluarkan sedekah di jalan Allah, maka akan ditulis baginya menjadi tujuh ratus kali lipat kebaikan."
Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Abu Az Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah], dan sanad hadis ini sampai kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam, beliau bersabda: Allah Ta'ala berfirman: "Wahai bani Adam, berinfaklah niscaya Aku akan memberi nafkah kepadamu." Dan beliau bersabda: "anugerah Allah itu melimpah dan tidak akan habis. Ia tidak akan berkurang sedikitpun sepanjang malam dan siang."
Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadis sebelumnya; dari [Abu Hurairah]; Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Sesungguhnya tangan kanan Allah lapang, tidak pernah mengurangi pemberian-Nya baik siang maupun malam, tidakkah kalian melihat bagaimana Allah telah memberikan nafkah semenjak Dia mencipta langit dan bumi. Sesungguhnya Allah tidak pernah mengurangi apa yang ada pada tangan kanan-Nya." Beliau bersabda: "dan 'Arsy-Nya ada di atas air, pada tangan yang lain terdapat kematian, Dia melapangkan rezeki dan menyempitkannya pula."
Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadis sebelumnya; dari [Abu Hurairah]; Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Sesungguhnya Allah 'azza wajalla berfirman kepadaku: 'Berinfaqlah maka Aku akan berinfaq kepadamu, ' dan Dia menamakan perang dengan tipu muslihat."
Telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin Umar] dan [Mu'awiyah bin Hisyam] mereka berkata; telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Abu Az Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Dikatakan kepadanya; 'Berinfaqlah maka Aku (Allah) akan berinfaq kepadamu." Mu'awiyah menyebutkan dalam hadisnya; Rasulullah bersabda: "Rabb kita 'azza wajalla berfirman; 'Berinfaqlah maka Aku (Allah) akan berinfaq kepadamu.'"
Telah menceritakan kepada kami [Yazid] berkata; telah mengabarkan kepada kami [Muhammad] dari [Abu Az Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah], dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya tangan kanan Allah terisi penuh, pemberian-Nya siang maupun malam tidak pernah menguranginya, " dan beliau bersabda: "Tidakkah kalian melihat bagaimana Allah telah memberikan nafkah (rezeki) semenjak Dia mencipta langit dan bumi. Sesungguhnya Allah tidak pernah mengurangi apa yang ada pada tangan kanan-Nya." Beliau bersabda: "Dan 'Arsy-Nya ada di atas air, di tangan-Nya yang lain terdapat neraca, Dia menurunkan dan meninggikan."
Telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari ['Amr bin Hassan] yaitu Al Musli, berkata; telah menceritakan kepada kami [Al Mughirah bin Abdullah Al Yaskuri] dari [bapaknya] berkata; saya masuk masjid Kufah ketika pertama kali dibangun, ketika itu berada di kebun-kebun pemilik kurma, dindingnya dari tanah liat. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berbicara kepada orang-orang. Ia berkata; telah sampai kabar kepadaku rencana haji Rasulullah Shallallahu'alahiwasallam tepatnya haji wada'. Saya pun ingin mengikutinya dengan untaku, saya keluar sampai saya bisa duduk menunggu di sebuah jalan Arafah, atau saya menunggunya di jalan Arafah. (laki-laki itu) berkata; ternyata ada serombongan orang yang saya tahu persis bahwa Rasulullah Shallallahu'alahiwasallam bersamanya. Lalu ada seorang laki-laki di depan beliau yang berkata 'Kosongkanlah jalan untukku dari para penunggang.' Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Celakalah dia, apa hak dia?" lalu saya mendekati beliau sehingga kepala dua unta kami bertemu. Saya berkata; "Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal yang dapat memasukkanku ke surga dan menyelamatkanku dari api neraka?" (Rasulullah Shallallahu'alahiwasallam) bersabda: "Yah, yah, kamu telah meringkas isi khutbah, kamu menanyakan hal yang sangat mengena, kalau begitu, pahamilah. Kamu beribadah kepada Allah Azzawajalla dan kamu tidak menyekutukan-nya dengan suatu apapun, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, serta puasa Ramadlan, berikanlah jalan untukku". Telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Yunus] berkata; saya mendengar hadis ini dari [Al Mughirah bin Abdullah] dari [bapaknya] sama yang di atas. Telah menceritakan kepada kami [Abdurrazzaq] berkata; telah menceritakan kepada kami [Ma'mar] dari [Abu Ishaq] dari [Al Mughirah bin Abdullah] dari [bapaknya] berkata; sampai selesai periwayatan hadis kepada [seorang laki-laki] yang bercerita tentang suatu kaum, lalu saya duduk, dia berkata; disebutkan sifat Rasulullah Shallallahu'alahiwasallam, dan saya berada di Mina untuk menuju ke Arafah, lalu menyebutkan hadis seperti diatas. Saya berkata; "Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku suatu amalan yang mendekatkan diriku kepada surga dan menjauhkan diriku dari neraka", beliau bersabda: "Kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, puasa Ramadlan, serta kamu menyukai manusia memperoleh suatu hal yang menyenangkan sebagaimana jika diberikan kepadamu, dan kamu susah seandainya manusia mendapat suatu hal menyusahkan sebagaimana jika ditimpakan kepadamu, minggirlah dari jalan ini".
Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah], Abu Abdurrahman berkata dan saya telah mendengarnya, saya adalah dari anaknya Abu Syaibah berkata; Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Idris] dari [Al-A'masy] dari [Al-Hakam] dari [Urwah] dari [Aisyah] bahwasanya ada seorang pengemis yang meminta-minta, maka saya memerintahkan seorang pembantu hingga kemudian ia memberi sesuatu untuknya. Lalu Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Wahai Aisyah! Jangan kamu menghitung-hitungnya, maka Allah akan perhitungan terhadapmu." Abu Abdur Rahman berkata: Dan saya mendengarnya dari Ibnu Abi Syaibah.
Telah menceritakan kepada kami [Suraij], dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abi Zinad], dari [Hisyam bin Urwah], dari [ayahnya], dari [Aisyah] bahwasanya dia berkata; wahai anak saudaraku, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam telah bersabda kepadaku: "Wahai Aisyah! janganlah kamu menghitungnya maka Allah akan menghitung atasmu (menuntutmu)."
Telah menceritakan kepada kami [Suraij], dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Nafi'], dari [Ibnu Abi Mulaikah] bahwasanya Aisyah bershadaqoh dengan sesuatu maka ia meyuruh Bariroh untuk datang kepadanya untuk melihat shadaqoh tersebut, maka Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Janganlah kamu menghitungnya sehingga Allah melakukan perhitungan terhadapmu."
Telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Muhammad, yaitu Ibnu Syarik] dari [Ibnu Abi Mulaikah] dari [Aisyah], bahwa Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Jangan engkau bakhil (untuk berinfak), sehingga Allah bakhil kepadamu." Dan berkata [Usamah] dari [Ibnu Abu Mulaikah] dari [Asma'].
Telah menceritakan kepada kami [Sufyan bin Uyainah] dari [Ayyub] dari [Ibnu Abu Mulaikah] dari [Asma'] dia berkata, "Saya berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, 'Saya tidak memiliki apa-apa kecuali apa yang dimasukkan Zubair ke dalam rumahku." Beliau bersabda: "Berinfaklah dan janganlah kamu tutup (pundi uangmu), sehingga akan ditutup pula darimu (ditutup pintu rezekinya)."
Telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Ibnu Juraij] dari [Ibnu Abu Mulaikah] dari [Asma'] bahwa dia berkata, "Wahai Rasulullah, aku tidak memiliki sesuatu kecuali apa yang telah Zubair masukkan (berikan) kepadaku, apakah aku harus bersedekah darinya?" Beliau bersabda: "Bersedekahlah dan jangan suka mengumpul-ngumpulkan (harta) atau Allah akan angkat (rezekimu) atasmu."
Telah menceritakan kepada kami [Waki'] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Sulaiman] dan [Abdul Jabbar bin Ward] dua orang laki-laki penduduk Makkah, keduanya telah mendengarnya dari [Ibnu Abu Mulaikah] dari [Asma' binti Abu Bakar], bahwa dia bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Sesungguhnya Zubair adalah seorang laki-laki yang kuat (keras), sedangkan dia datang kepadaku dalam keadaan miskin, apakah aku harus bersedekah dari (isi) rumahnya (harta) tanpa izin terlebih dahulu?" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bersedekahlah dan janganlah mengumpul-ngumpulkan (harta), atau Allah akan angkat (rezekimu) atasmu."
Telah menceritakan kepada kami [Waki'] telah menceritakan kepada kami [Usamah bin Zaid] dari [Muhammad bin Al Munkadir] dari [Asma' binti Abu Bakar] dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Janganlah mengumpul-ngumpulkan (harta), atau Allah akan angkat (rezekimu) atasmu."
Telah menceritakan kepada kami [Abu 'Ashim] dari [Ibnu Juraij]. Dan diriwayatkanpula telah menceritakan kepada saya [Muhammad bin 'Abdur Rahim] dari [Hajjaj bin Muhammad] dari [Ibnu Juraij] berkata, telah mengabarkan kepada saya [Ibnu Abu Mulaikah] dari ['Abbad bin 'Abdullah bin Az Zubair] bahwa dia mengabarkannya dari [Asma' binti Abu Bakar radliallahu 'anhuma] bahwa dia menemui Nabi Shallallahu'alaihiwasallam lalu Beliau bersabda: "Janganlah kamu berkarung-karung (kamu kumpulkan harta dalam karung lalu kamu kikir untuk menginfaqkannya) sebab Allah akan menyempitkan reziki bagimu dan berinfaqlah dengan ringan sebatas kemampuanmu ".
Telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari ['Amr bin Hassan] yaitu Al Musli, berkata; telah menceritakan kepada kami [Al Mughirah bin Abdullah Al Yaskuri] dari [bapaknya] berkata; saya masuk masjid Kufah ketika pertama kali dibangun, ketika itu berada di kebun-kebun pemilik kurma, dindingnya dari tanah liat. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang berbicara kepada orang-orang. Ia berkata; telah sampai kabar kepadaku rencana haji Rasulullah Shallallahu'alahiwasallam tepatnya haji wada'. Saya pun ingin mengikutinya dengan untaku, saya keluar sampai saya bisa duduk menunggu di sebuah jalan Arafah, atau saya menunggunya di jalan Arafah. (laki-laki itu) berkata; ternyata ada serombongan orang yang saya tahu persis bahwa Rasulullah Shallallahu'alahiwasallam bersamanya. Lalu ada seorang laki-laki di depan beliau yang berkata 'Kosongkanlah jalan untukku dari para penunggang.' Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Celakalah dia, apa hak dia?" lalu saya mendekati beliau sehingga kepala dua unta kami bertemu. Saya berkata; "Wahai Rasulullah, tunjukkan kepadaku suatu amal yang dapat memasukkanku ke surga dan menyelamatkanku dari api neraka?" (Rasulullah Shallallahu'alahiwasallam) bersabda: "Yah, yah, kamu telah meringkas isi khutbah, kamu menanyakan hal yang sangat mengena, kalau begitu, pahamilah. Kamu beribadah kepada Allah Azzawajalla dan kamu tidak menyekutukan-nya dengan suatu apapun, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, serta puasa Ramadlan, berikanlah jalan untukku". Telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Yunus] berkata; saya mendengar hadis ini dari [Al Mughirah bin Abdullah] dari [bapaknya] sama yang di atas. Telah menceritakan kepada kami [Abdurrazzaq] berkata; telah menceritakan kepada kami [Ma'mar] dari [Abu Ishaq] dari [Al Mughirah bin Abdullah] dari [bapaknya] berkata; sampai selesai periwayatan hadis kepada [seorang laki-laki] yang bercerita tentang suatu kaum, lalu saya duduk, dia berkata; disebutkan sifat Rasulullah Shallallahu'alahiwasallam, dan saya berada di Mina untuk menuju ke Arafah, lalu menyebutkan hadis seperti diatas. Saya berkata; "Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepadaku suatu amalan yang mendekatkan diriku kepada surga dan menjauhkan diriku dari neraka", beliau bersabda: "Kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, berhaji ke Baitullah, puasa Ramadlan, serta kamu menyukai manusia memperoleh suatu hal yang menyenangkan sebagaimana jika diberikan kepadamu, dan kamu susah seandainya manusia mendapat suatu hal menyusahkan sebagaimana jika ditimpakan kepadamu, minggirlah dari jalan ini".
Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Muhammad bin Abi Syaibah], Abu Abdurrahman berkata dan saya telah mendengarnya, saya adalah dari anaknya Abu Syaibah berkata; Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Idris] dari [Al-A'masy] dari [Al-Hakam] dari [Urwah] dari [Aisyah] bahwasanya ada seorang pengemis yang meminta-minta, maka saya memerintahkan seorang pembantu hingga kemudian ia memberi sesuatu untuknya. Lalu Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Wahai Aisyah! Jangan kamu menghitung-hitungnya, maka Allah akan perhitungan terhadapmu." Abu Abdur Rahman berkata: Dan saya mendengarnya dari Ibnu Abi Syaibah.
Telah menceritakan kepada kami [Suraij], dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abi Zinad], dari [Hisyam bin Urwah], dari [ayahnya], dari [Aisyah] bahwasanya dia berkata; wahai anak saudaraku, Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam telah bersabda kepadaku: "Wahai Aisyah! janganlah kamu menghitungnya maka Allah akan menghitung atasmu (menuntutmu)."
Telah menceritakan kepada kami [Suraij], dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Nafi'], dari [Ibnu Abi Mulaikah] bahwasanya Aisyah bershadaqoh dengan sesuatu maka ia meyuruh Bariroh untuk datang kepadanya untuk melihat shadaqoh tersebut, maka Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Janganlah kamu menghitungnya sehingga Allah melakukan perhitungan terhadapmu."
Telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Muhammad, yaitu Ibnu Syarik] dari [Ibnu Abi Mulaikah] dari [Aisyah], bahwa Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Jangan engkau bakhil (untuk berinfak), sehingga Allah bakhil kepadamu." Dan berkata [Usamah] dari [Ibnu Abu Mulaikah] dari [Asma'].
Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadis sebelumnya; dari [Abu Hurairah]; Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Sesungguhnya tangan kanan Allah lapang, tidak pernah mengurangi pemberian-Nya baik siang maupun malam, tidakkah kalian melihat bagaimana Allah telah memberikan nafkah semenjak Dia mencipta langit dan bumi. Sesungguhnya Allah tidak pernah mengurangi apa yang ada pada tangan kanan-Nya." Beliau bersabda: "dan 'Arsy-Nya ada di atas air, pada tangan yang lain terdapat kematian, Dia melapangkan rezeki dan menyempitkannya pula."
Telah menceritakan kepada kami [Yazid] berkata; telah mengabarkan kepada kami [Muhammad] dari [Abu Az Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah], dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya tangan kanan Allah terisi penuh, pemberian-Nya siang maupun malam tidak pernah menguranginya, " dan beliau bersabda: "Tidakkah kalian melihat bagaimana Allah telah memberikan nafkah (rezeki) semenjak Dia mencipta langit dan bumi. Sesungguhnya Allah tidak pernah mengurangi apa yang ada pada tangan kanan-Nya." Beliau bersabda: "Dan 'Arsy-Nya ada di atas air, di tangan-Nya yang lain terdapat neraca, Dia menurunkan dan meninggikan."
Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] Telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] Telah menceritakan kepada kami [Abu Az Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah Azza wa Jalla berfirman: 'Berinfaklah, maka aku akan berinfak kepadamu.' Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sesungguhnya tangan Allah terisi penuh, pemberian-Nya siang maupun malam tidak pernah menguranginya." Juga beliau bersabda: "Tidakkah kalian melihat bagaimana Allah telah memberikan nafkah (rezeki) semenjak Dia mencipta langit dan bumi. Sesungguhnya Allah tidak pernah berkurang apa yang ada pada tangan kanan-Nya." Beliau bersabda: "Dan 'Arsy-Nya ada di atas air, di tangan-Nya yang lain terdapat neraca, Dia merendahkan dan meninggikan."
Telah menceritakan kepada kami [Abul Yaman] Telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] telah menceritakan kepada kami [Abuz Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah] Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tangan Allah selalu penuh, tidak kurang karena memberi nafkah, dan selalu dermawan baik siang maupun malam." Beliau bersabda lagi: "Bukankah kalian telah melihat apa yang dibelanjakan-Nya semenjak Dia mencipta langit dan bumi, dan tidak berkurang sedikit pun apa yang di tangan-Nya?" Beliau bersabda lagi: "Arsy-Nya di atas air, dan tangan-Nya yang lain memegang timbangan, yang terkadang Ia rendahkan atau Ia tinggikan."
Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Abdullah] telah menceritakan kepada kami [Abdurrazaq] telah mengabarkan kepada kami [Ma'mar] dari [Hammam] telah menceritakan kepada kami [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tangan kanan Allah selalu penuh dan sama sekali tidak pernah kurang karena berderma (infak), Dia sangat dermawan baik malam maupun siang, tidakkah kalian tahu apa yang telah diinfakan-Nya semenjak Ia mencipta langit dan bumi dan itu semua tidak mengurangi apa yang berada di tangan kanan-Nya? Dan arsy-Nya berada diatas air, dan ditangan-Nya yang lain urusan menjulurkan atau menahan, karenanya Dia meninggikan atau merendahkan."
Telah menceritakan kepada kami ['Affan] berkata, telah menceritakan kepada kami [Hammam] telah mengabarkan kepada kami [Qatadah] dari [Mutharrif bin Abdullah] dari [Bapaknya] berkata, saya bertemu dengan Rasulullahi Shallallahu'alaihiwasallam ketika beliau sedang membaca, ALHAKUMUT TAKATSUR HATTA ZURTUMUL MAQABIR, Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, Sampai kamu masuk ke dalam kubur' Lalu beliau bersabda: "Anak Adam berkata, 'Aduhai hartaku, aduhai hartaku', padahal tidaklah harta itu menjadi milikmu wahai Anak Adam, kecuali yang telah kau makan lalu menjadi musnah, atau yang kamu pakai lalu menjadi kusut, atau yang kamu sedekahkan, lalu kamu mendapatkan pahalanya". [Qatadah] berkata, setiap sedekah yang belum diterima maka tidak ada artinya. Telah menceritakan kepada kami [Bahz] berkata, telah menceritakan kepada kami [Hammam] telah menceritakan kepada kami [Qatadah] dari [Mutharrif] dari [Bapaknya] dia menemui Nabi Shallallahu'alaihiwasallam lalu mendengar beliau berkata, lalu menyebutkan sebagaimana hadis 'Affan, namun tidak disebutkan perkataan Qatadah.
Telah menceritakan kepadaku [Bisyr bin Khalid Abu Muhammad]; Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] dari [Syu'bah] dari [Sulaiman] dari [Abu Wail] dari [Abu Mas'ud] dia berkata; Setelah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkan kami untuk bersedekah, maka kami saling membawakan sedekah tersebut agar kami mendapatkan pahala darinya, lalu Abu Uqail bersedekah dengan setengah sha', kemudian datang seseorang dengan membawa lebih banyak dari itu, lalu orang-orang munafik berkata; " Allah Azza Wa Jalla benar-benar tidak membutuhkan sedekah orang ini, orang ini tidak melakukannya kecuali dengan riya'. Lalu turun ayat: 'Orang-orang munafik itu yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya." (Qs. At Taubah: 79).
Telah menceritakan kepadaku [Yahya bin Ma'in] Telah menceritakan kepada kami [Ghundar] Telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] -dalam jalur lain- dan telah menceritakannya kepadaku [Bisyr bin Khalid] -lafazhnya juga miliknya- telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] dari [Syu'bah] dari [Sulaiman] dari [Abu Wa`il] dari [Abu Mas'ud], ia berkata; Kami pernah diperintahkan untuk bersedekah, ia berkata: lalu kami bekerja sebagai buruh yang mengangkat barang dengan sedikit upah. Ia berkata: maka bersedekahlah Abu 'Uqail dengan setengah sha', kemudian datang seorang lelaki dan bersedekah sedikit lebih banyak daripadanya. Maka orang-orang munafikpun berkata, "Sesungguhnya Allah tidak butuh dengan sedekah orang ini dan tidaklah ia melakukannya kecuali karena riya'." Maka turunlah ayat: "(orang-orang munafik itu) yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekedar kesanggupannya…" Dan Bisyr tidak melafadzkan kalimat "AL MUTHTHOWWI'IN." Dan Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basysyar] telah menceritakan kepadaku [Sa'id bin Rabi'] -dalam jalur lain- Dan telah menceritakannya kepadaku [Ishaq bin Manshur] telah mengabarkan kepada kami [Abu Dawud] keduanya dari [Syu'bah] dengan isnad ini. Dalam hadis Sa'id bin Rabi', ia mengatakan; Kami memanggul barang di atas punggung-punggung kami (dengan sedikit upah-pent).
Telah mengabarkan kepada kami [Bisyr bin Khalid] dia berkata; Telah menceritakan kepada kami [Ghundar] dari [Syu'bah] dari [Sulaiman] dari [Abu Wa'il] dari [Abu Mas'ud] dia berkata; "Setelah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam memerintahkan kami untuk bersedekah, maka Abu Uqail bersedekah dengan satu sha', dan datang seseorang dengan membawa lebih banyak dari itu, lalu orang-orang munafik berkata; " Allah Azza Wa Jalla benar-benar tidak membutuhkan sedekah orang ini, orang ini tidak melakukannya kecuali dengan riya'. Lalu turun ayat: 'Orang-orang munafik itu yaitu orang-orang yang mencela orang-orang mukmin yang memberi sedekah dengan sukarela dan (mencela) orang-orang yang tidak memperoleh (untuk disedekahkan) selain sekadar kesanggupannya." (Qs. At Taubah 9: 79).
Telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin Yahya] telah menceritakan kepada kami [bapakku] telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] dari [Syaqiq] dari [Abu Mas'ud Al Anshariy radliallahu 'anhu] berkata,: "Adalah Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bila memerintahkan kami bershadaqah, maka seseorang dari kami akan berangkat menuju pasar lalu dia bekerja dengan sungguh-sungguh hingga mendapatkan rezeki satu mud. Adapun hari ini sebagian dari mereka bisa mendapatkan seratus ribu kalinya".
Telah menceritakan kepada kami [Rauh] telah menceritakan kepada kami [Zakariya] telah mengabarkan kepada kami [Amru bin Dinar] dari [Ikrimah] dari [Ibnu Abbas] bahwa seorang laki-laki berkata; Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibunya telah meninggal dunia, apakah bermanfaat bila aku bersedekah untuknya? Beliau bersabda: "Ya." Ia berkata; Sesungguhnya aku memiliki kebun kurma dan aku mempersaksikan kepadamu bahwa aku telah menyedekahkan untuknya.
(Abdullah bin Ahmad bin Hanbal) berkata; (Ahmad bin hanbal) berkata; telah menceritakan kepada kami [Husain bin Muhammad] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Az Zinad] dan [Sulaiman bin Daud] berkata; telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman] dari [Bapaknya] dari ['Urwah] dari ['Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah] dari [Ra`ithah, isteri Abdullah] dia adalah wanita yang rajin membuat kerajinan, dia berjualan dan bersedekah. Suatu hari dia berkata kepada Abdullah, "Engkau dan anakmu telah menyibukkanku sehingga aku tidak dapat bersedekah". Abdullah berkata; "Kalaulah hal tersebut tidak mendapatkan pahala, maka aku tidak menyukainya untuk kamu kerjakan". Lalu mereka berdua bertanya mengenai hal itu kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, dan beliau bersabda kepada istri Abdullah, "Engkau mendapatkan pahala dari yang kamu belanjakan untuk mereka."
(Ahmad bin hanbal) berkata; telah menceritakan kepada kami [Ya'qub] telah menceritakan kepada kami [bapakku] dari [Ibnu Ishaq] berkata; telah menceritakan kepadaku [Hisyam bin 'Urwah] dari [Bapaknya] dari ['Ubaidullah bin Abdullah bin 'Utbah] dari [Ra`ithah], istri Abdullah bin Mas'ud, dan ibu dari anaknya, dia adalah seorang yang biasa membuat kerajinan. ('Urwah) berkata; dia berinfak kepada (Abdullah) dan anaknya dari hasil kerjanya. Dia berkata; saya berkata kepada Abdullah bin Mas'ud, kamu dan anakmu telah menyibukkanku dari bersedekah, sehingga saya tidak bisa bersedekah bersama kalian. Abdullah berkata kepadanya 'Demi Allah, saya tidak suka kamu melakukannya jika kamu tidak mendapatkan pahala dari hal itu.' Raitah kontan mendatangi Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam dan berkata; 'Wahai Rasulullah, saya seorang wanita yang punya ketrampilan, yang hasilnya bisa saya jual, namun anak dan suamiku tidak ada nafkahnya selainnya, namun selanjutnya mereka menyibukkanku sehingga aku tidak bisa bersedekah, apakah saya mendapatkan pahala dari apa yang saya belanjakan?. Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Berinfaklah kepada mereka, karena hal itu menjadi pahala bagimu."
Telah bercerita kepada kami [Hajjaj] berkata: Aku mendengar [Syu'bah] berceriat dari [Qatadah] berkata: Aku mendengar [Al Hasan] bercerita dari [Sa'ad bin 'Ubadah] ibunya meninggal dunia lalu ia berkata kepda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam: Ibuku meninggal, apakah aku bersedekah untuknya? Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Ya." Ia bertanya: Sedekah apa yang paling utama? Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Memberi minum." Berkata Al Hasan: Itulah sumur keluarga Sa'ad di Madinah. Berkata Syu'bah: Aku berkata kepada Qatadah: Siapa yang berkata: Itulah sumur keluarga Sa'ad? Ia menjawab: Al Hasan.
Telah menceritakan kepada [Abdurrazaq] dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Ma'mar] dari [Hisyam bin Urwah] dari [Ayahnya] dari [Zainab binti Abu Salamah] dari [Ummu Salamah] bahwasanya dia berkata; "Wahai Rasulullah! Sesungguhnya suku Abu Salamah adalah termasuk suku saya, mereka tidak memiliki apapun kecuali apa yang aku infakkan kepada mereka, dan aku orang yang tidak tega membiarkan mereka begini dan begini. Apakah aku mendapatkan pahala terhadap apa yang aku infakkan kepada mereka?" Nabi shalallahu'alaihi wa sallam bersabda: "Infakkanlah kepada mereka, karena bagimu pahala terhadap apa yang engkau infakkan kepada mereka."
Telah menceritakan kepada kami [Abu An Nadhr] dan [Hasan bin Musa] mereka berkata: telah menceritakan kepada kami [Warqo`] dari [Abdullah bin Dinar] dari [Sa'id bin Yasar] dari [Abu Hurairah], ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Barangsiapa bersedekah senilai sebiji kurma dari hasil usaha yang baik, dan tidak naik pada Allah kecuali dengan yang baik, maka Allah akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya kemudian memeliharanya untuk pemiliknya sebagaimana salah seorang dari kalian memelihara anak kuda hingga menjadi seperti gunung."
Telah menceritakan kepada kami [Khalaf bin Al Walid] telah menceritakan kepada kami [Al Mubarak] berkata; telah menceritakan kepada kami [Abdul Wahid bin Shibrah] dan ['Abbad bin Manshur] bahwasanya mereka berdua mendengar [Al Qasim bin Muhammad] berkata; aku mendengar [Abu Hurairah] berkata; Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah 'azza wajalla menerima sedekah, dan Ia tidak menerimanya kecuali yang baik, Allah Tabaraka wa Ta'ala akan menerimanya dengan tangan kanan-Nya dan memeliharanya untuk hamba-Nya yang muslim, sebagaimana salah seorang dari kalian memelihara anak kuda atau anak untanya, sehingga pada hari kiamat akan menjadi seperti gunung uhud."
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] berkata; telah menceritakan kepada kami [Bakr bin Mudhar] dari [Ibnu 'Ajlan] bahwa [Sa'id bin Yasar Abu Al Hubab] mengabarkan kepadanya dari [Abu Hurairah] berkata; Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang hamba yang beriman bersedekah dengan sesuatu yang baik, dan Allah tidak menerima kecuali yang baik, dan tidak akan naik ke langit kecuali yang baik, kecuali dia telah meletakkannya di tangan Ar Rahman, -atau beliau mengatakan; - di telapak tangan Ar Rahman, maka Allah akan memeliharanya sebagaimana salah seorang dari kalian memelihara anak unta, sehingga sebutir kurma dapat menjadi banyak semisal gunung yang besar."
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] berkata; telah menceritakan kepada kami [Ya'qub] -yaitu Ibnu Abdurrahman dari [Suhail bin Abu Shalih] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah] berkata; Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seseorang bersedekah dengan sebutir kurma dari usaha yang baik, kecuali Allah akan menerimanya dengan tangan kanan, lalu Allah memeliharanya untuknya sebagaimana salah seorang dari kalian memelihara biji atau anak unta, sehingga sedekahnya berkembang seperti gunung yang besar."
Telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Ibnu 'Ajlan] telah menceritakan kepadaku [Sa'id bin Yasar] dari [Abu Hurairah] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang muslim bersedekah dari usaha yang baik, dan Allah tidak menerima kecuali yang baik, dan tidak akan naik ke langit kecuali yang baik, kecuali dia telah meletakkannya di telapak tangan Ar Rahman 'azza wajalla, maka Allah akan memeliharanya sebagaimana salah seorang dari kalian memelihara anak unta, sehingga sebutir kurma dapat menjadi banyak semisal gunung yang besar."
Telah menceritakan kepada kami [Ammar bin Muhammad] dari [Ibrahim] dari [Abu Al Ahwash] dari [Abdullah] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Hendaklah salah seorang dari kalian menjaga wajahnya dari api neraka meskipun dengan sekerat kurma."
Telah menceritakan kepada kami [Waki'] dan [Abu Mu'awiyah] secara makna, keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] dari [Khaitsamah] dari [Adi bin Hatim Ath Tha`i] ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak seorang pun dari kalian kecuali akan diajak berbicara oleh Rabb-nya Azza wa Jalla tanpa ada perantara antara dia dengan Allah. Kemudian ia melihat ke se belah kanan, tiada lain yang ia lihat kecuali amalan yang telah diperbuatnya. Lalu ia memandang ke sebelah kiri, dan ia pun tidak melihat kecuali sesuatu yang telah diperbuatnya. Kemudian ia melihat ke arah depan, neraka pun menghadap ke arahnya. Maka siapa di antara kalian yang mampu untuk menjaga dirinya dari neraka meskipun dengan setengah biji kurma, maka lakukanlah."
Telah menceritakan kepada kami [Waki'] telah menceritakan kepada kami [Sa'dan Al Juhani] dari [Ibnu Khalifah Ath Tha`i] dari [Adi bin Hatim] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Barangsiapa di antara kalian bisa menjaga diri dari api neraka, hendaklah ia bersedekah meskipun dengan setengah biji kurma. Dan barangsiapa tidak mendapatkan, hendaklah ia mengucapkan kalimat thayyibah."
Telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Abu Ishaq] dari [Abdullah bin Ma'qil] dari [Adi bin Hatim] ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa di antara kalian dapat membebaskan dirinya dari neraka meski dengan setengah biji kurma, maka lakukanlah."
Telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman] dan [Ibnu Ja'far] keduanya berkata, Telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Amru bin Murrah] dari [Khaitsamah] dari [Adi bin Hatim] ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebut-nyebut tentang neraka." Ibnu Ja'far berkata, "Beliau lalu berlindung dari neraka, lalu memalingkan wajahnya seraya bersabda: "Hendaklah kalian menghindari neraka meski hanya dengan setengah biji kurma. Jika kalian tidak mampu, maka ucapkanlah kalimat thayyibah."
Telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Syu'bah]. Dan [Muhammad bin Ja'far] berkata; telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Al Hakam] dari [Abdul Hamid bin Abdurrahman] dari [Miqsam] dari [Ibnu 'Abbas] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang orang yang mendatangi istrinya saat haidh, maka ia mensedekahkan satu dinar atau setengah dinar. [Abdurrahman] dan [Bahz] tidak memarfu'kannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Telah menceritakan kepada kami [Yazid] telah mengabarkan kepada kami [Sa'id] dari [Qotadah] dari [Miqsam] dari [Ibnu 'Abbas], ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyuruh kepada orang yang mendatangi isterinya dalam keadaan haidl dengan bersedekah satu dinar atau setengahnya." Telah menceritakan kepada kami [Abdul Wahab] dari [Sa'id] dari [Qotadah] dari [Miqsam] dari [Ibnu 'Abbas] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seperti di atas, dan diriwayatkan oleh [Abdul Karim Abu Umayyah] seperti itu dengan sanadnya.
Telah menceritakan kepada kami [Yunus] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Salamah] dari ['Atha` Al 'Aththar] dari [Ikrimah] dari [Ibnu 'Abbas]; bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: " (Hendaklah seseorang) bersedekah sebanyak satu dinar, jika tidak mendapatkannya maka dengan setengah dinar yakni bagi siapa yang telah mendatangi isterinya ketika haidl."
Telah menceritakan kepada kami [Husain] telah menceritakan kepada kami [Syarik] dari [Khushaif] dari [Miqsam] dari [Ibnu Abbas] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang laki-laki yang menggauli istrinya yang sedang haid. Beliau bersabda: "Dia bersedekah setengah dinar."
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] dari [Syu'bah] dari [Al Hakam] dari [Abdul Hamid bin Abdurrahman] dari [Miqsam] dari [Ibnu Abbas] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda tentang orang yang menggauli istrinya yang sedang haidl: "Ia harus bersedakah satu dinar atau setengah dinar."
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Fudlail] dari [Umaroh] dari [Abu Zur'ah] dari [Abu Hurairah], dia berkata; ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam dan berkata: "Wahai Rasulullah, sedekah bagaimanakah yang paling besar pahalanya?" Beliau menjawab: "Bila kamu bersedekah sedang kamu masih dalam keadaan sehat, takut miskin dan sangat menginginkan kelanggengan. Dan janganlah kamu menundanya hingga jika (ruh) telah sampai di tenggorokan sehingga kamu berkata; ini untuk si fulan, ini untuk si fulan, dan ia memang untuk si fulan."
Telah menceritakan kepada kami [Jarir bin Abdul Hamid] dari [Umaroh bin Al Qa'qa'] dari [Abu Zur'ah] dari [Abu Hurairah], dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam ditanya: "sedekah yang bagaimanakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Sungguh akan aku beritahukan bahwa sedekah yang paling utama adalah ketika engkau dalam kondisi sehat, bakhil, ingin hidup kekal dan tidak ingin jatuh miskin, janganlah engkau tunda-tunda sehingga nyawamu berada di tenggorokan, lalu engkau berkata; untuk si fulan sekian, untuk si fulan sekian, padahal itu telah menjadi bagian si fulan."
Telah menceritakan kepada kami ['Affan] telah menceritakan kepada kami [Abdul Wahid bin Ziyad] berkata; telah menceritakan kepada kami [Umarah bin Al Qa'qa' bin Syubrumah Adh Dhabbi] berkata; telah mengabarkan kepada kami [Abu Zur'ah bin 'Amru bin Jarir] berkata; telah menceritakan kepada kami [Abu Hurairah] berkata; Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan bertanya; "Wahai Rasulullah, sedekah bagaimanakah yang paling besar pahalanya?" beliau bersabda: " (Yaitu) ketika engkau dalam keadaan sehat dan pelit, engkau takut miskin dan berharap kaya, maka janganlah menunda-nunda sehingga nyawamu telah sampai di tenggorokan, kemudian kamu berkata; 'Untuk si fulan sekian, untuk si fulan sekian, padahal itu telah menjadi miliknya."
Telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Sufyan] dari [Umarah bin Al Qa'qa'] dari [Abu Zur'ah] dari [Abu Hurairah] berkata; Seorang lelaki bertanya; "Wahai Rasulullah, sedekah yang bagaimana yang paling utama?" maka beliau menjawab: "Engkau bersedekah ketika engkau dalam keadaan pelit, sehat, ingin kaya dan takut miskin. Dan janganlah engkau menunda-nunda sehingga nyawa telah sampai di tenggorokan, engkau berkata; 'Untuk si fulan sekian, untuk si fulan sekian' padahal itu telah menjadi bagian si fulan."
Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma'il] telah menceritakan kepada kami ['Abdul Wahid] telah menceritakan kepada kami ['Umarah banal Qa'qa'] telah menceritakan kepada kami [Abu Zur'ah] telah menceritakan kepada kami [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] berkata,: "Seorang laki-laki datang kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam dan berkata,: "Wahai Rasulullah, shadaqah apakah yang paling besar pahalanya?". Beliau menjawab: "Kamu bershadaqah ketika kamu dalam keadaan sehat dan kikir, takut menjadi faqir dan berangan-angan jadi orang kaya. Maka janganlah kamu menunda-nundanya hingga tiba ketika nyawamu berada di tenggorakanmu. Lalu kamu berkata, si fulan begini (punya ini) dan si fulan begini. Padahal harta itu milik si fulan".
Bab. Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Isma'il] telah menceritakan kepada kami [Abu 'Awanah] dari [Firas] dari [As-Sya'biy] dari [Masruq] dari ['Aisyah radliallahu 'anha]; Sebagian isteri-isteri Nabi Shallallahu'alaihiwasallam berkata kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam: "Siapakan diantara kami yang segera menyusul anda (setelah kematian)?". Beliau bersabda: "Siapa yang paling panjang lengannya diantara kalian". Maka mereka segera mengambil tongkat untuk mengukur panjang lengan mereka. Ternyata Saudah radliallahu 'anha yang paling panjang tangannya diantara mereka. Setelah itu kami mengetahui bahwa yang dimaksud dengan panjang lengan adalah yang paling gemar bershadaqah, dan ternyata Saudah radliallahu 'anha yang lebih dahulu menyusul kematian Beliau, dan dia juga paling gemar bershedeqah".
Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Hafsh] telah mengabarkan kepada kami [Warqo`] dari [Abu Az Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah], dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Seorang laki-laki berkata; 'Aku benar-benar akan mengeluarkan sedekah pada malam ini, ' maka ia pun memberikan sedekahnya kepada seorang wanita pelacur hingga pada pagi harinya orang-orang berkata; 'Semalam ia telah memberikan sedekahnya kepada seorang pelacur.' Kemudian ia berkata; 'Aku benar-benar akan mengeluarkan sedekah pada malam ini, ' maka ia memberikan sedekahnya kepada seorang pencuri hingga pada pagi harinya orang-orang berkata; 'Semalam ia telah memberikan sedekah kepada seorang pencuri.' kemudian ia berkata; 'Aku benar-benar akan mengeluarkan sedekah pada malam ini, ' maka ia memberikan sedekahnya kepada orang yang kaya, hingga pada pagi harinya orang-orang berkata; 'Semalam ia telah memberikan sedekahnya kepada orang kaya.' Lalu laki-laki tersebut berkata; 'Alhamdulillah aku telah memberikan sedekah kepada seorang pelacur, seorang pencuri dan seorang yang kaya.'" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Kemudian ada orang yang datang dan dikatakan kepadanya; "Adapun sedekahmu sungguh telah diterima, bagi pelacur itu semoga dengan sedekah tersebut ia memohon ampun dan menjaga kehormatannya, dan bagi pencuri semoga dengan sedekah tersebut ia merasa cukup dengannya, sedangkan bagi orang kaya itu semoga dengan sedekah tersebut ia mengambil pelajaran darinya lalu menginfaqkan apa yang telah diberikan oleh Allah kepadanya."
Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] telah menceritakan kepada kami [Abu Az Zanad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu]; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam berkata,: "Ada seorang laki-laki berkata,: Aku pasti akan bershadaqah. Lalu dia keluar dengan membawa shadaqahnya dan ternyata jatuh ke tangan seorang pencuri. Keesokan paginya orang-orang ramai membicarakan bahwa dia telah memberikan shadaqahnya kepada seorang pencuri. Mendengar hal itu orang itu berkata,: "Ya Allah segala puji bagiMu, aku pasti akan bershadaqah lagi". Kemudian dia keluar dengan membawa shadaqahnya lalu ternyata jatuh ke tangan seorang pezina. Keesokan paginya orang-orang ramai membicarakan bahwa dia tadi malam memberikan shadaqahnya kepada seorang pezina. Maka orang itu berkata, lagi: Ya Allah segala puji bagiMu, (ternyata shadaqahku jatuh) kepada seorang pezina, aku pasti akan bershadaqah lagi. Kemudian dia keluar lagi dengan membawa shadaqahnya lalu ternyata jatuh ke tangan seorang yang kaya. Keesokan paginya orang-orang kembali ramai membicarakan bahwa dia memberikan shadaqahnya kepada seorang yang kaya. Maka orang itu berkata,: Ya Allah segala puji bagiMu, (ternyata shadaqahku jatuh) kepada seorang pencuri, pezina, dan orang kaya. Setelah itu orang tadi bermimpi dan dikatakan padanya: "Adapun shadaqah kamu kepada pencuri, mudah-mudahan dapat mencegah si pencuri dari perbuatannya, sedangkan shadaqah kamu kepada pezina, mudah-mudahan dapat mencegahnya berbuat zina kembali dan shadaqah kamu kepada orang yang kaya mudah-mudahan dapat memberikan pelajaran baginya agar menginfaqkan harta yang diberikan Allah kepadanya".
Telah menceritakan kepada kami [Suwaid bin Sa'id] telah menceritakan kepadaku [Hafsh bin Maisarah] dari dari [Musa bin Uqbah] dari [Abu Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Ada seorang laki-laki berkata, 'Malam ini, aku benar-benar akan bersedekah.' Maka laki-laki itu pun keluar membawa sedekahnya, dan disedekahkannya kepada wanita pelacur. Esok harinya, orang-orang pun mengatakan bahwa tadi malam ada pelacur yang diberi sedekah. Maka laki-laki itu berdoa, 'Ya Allah, segala puji bagi-Mu yang telah mentakdirkan sedekahku jatuh di tangan pelacur. Aku akan bersedekah lagi.' Ia pun pergi dengan membawa sedekahnya, lalu diberikannya kepada orang kaya. Esok harinya, orang-orang pun membicarakannya bahwa tadi malam ada orang yang memberi sedekah kepada orang kaya. Maka laki-laki itu pun berkata, 'Ya Allah, Untuk-Mulah segala puji, karena Engkau telah menjadikan sedekahku jatuh di tangan orang yang kaya, aku akan bersedekah lagi.' Kemudian ia pergi lagi dengan membawa sedekahnya dan diberikannya kepada pencuri. Esok harinya, orang-orang pun membicarakannya, bahwa tadi malam ada orang yang bersedekah kepada pencuri. Laki-laki yang bersedekah itu pun berujar, 'Segala puji bagi Allah yang telah mentakdirkan sedekahku jatuh pada pelacur, kepada orang kaya, dan kepada pencuri.' Kemudian laki-laki itu didatangi malaikat seraya berkata, 'Sedekahmu telah diterima oleh Allah. Adapun shadaqahmu yang jatuh ke tangan perempuan pelacur, semoga ia berhenti dari perbuatan melacur, yang jatuh kepada orang kaya semoga dia menyadari dirinya dan bersedekah pula, sedangkan yang jatuh kepada si pencuri, semoga ia berhenti mencuri.'"
Telah mengabarkan kepada kami ['Imran bin Bakkar] dia berkata; Telah menceritakan kepada kami ['Ali bin 'Ayyasy] dia berkata; Telah menceritakan kepada kami [Syu'aib] dia berkata; Telah menceritakan kepadaku [Abu Az Zinad] dari apa-apa yang diceritakan kepadanya oleh ['Abdurrahman Al A'raj] dari apa-apa yang disebutkan bahwa ia mendengar [Abu Hurairah] menceritakannya dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda: "Seorang berkata; 'Sungguh aku benar-benar akan bersedekah! ' Lalu ia keluar dengan membawa sedekahnya dan memberikannya kepada seorang pencuri, maka mereka membicarakannya; 'Seorang pencuri diberi sedekah.' Ia berdoa; 'Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu terhadap seorang pencuri. Sungguh aku benar-benar akan bersedekah.' Lalu ia keluar dengan membawa sedekahnya dan memberikannya kepada seorang wanita yang berzina, maka mereka membicarakannya; 'Malam ini seorang wanita yang berzina diberi sedekah'. Dia berdoa; 'Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu terhadap seorang wanita yang berzina. Sungguh aku benar-benar akan bersedekah'. Lalu ia keluar dengan membawa sedekahnya dan memberikannya kepada orang kaya, maka mereka membicarakannya; 'Seorang kaya diberi sedekah.' Dia berdoa; 'Ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu terhadap seorang wanita yang berzina, seorang pencuri dan seorang yang kaya'. Lalu orang tersebut dibawa dan dikatakan kepadanya dalam mimpinya; 'Sedekahmu sungguh telah diterima. Adapun seorang wanita yang berzina, barangkali ia akan menjauhkan diri dari perzinaannya; barangkali seorang pencuri akan menjauhkan diri dari pencuriannya; dan barangkali orang yang kaya akan mengambil pelajaran, lalu ia menginfakkan apa yang Allah -Azza Wa Jalla- telah berikan kepadanya'."
Telah menceritakan kepada kami [Suwaid bin Sa'id] telah menceritakan kepadaku [Hafsh bin Maisarah] dari dari [Musa bin Uqbah] dari [Abu Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Ada seorang laki-laki berkata, 'Malam ini, aku benar-benar akan bersedekah.' Maka laki-laki itu pun keluar membawa sedekahnya, dan disedekahkannya kepada wanita pelacur. Esok harinya, orang-orang pun mengatakan bahwa tadi malam ada pelacur yang diberi sedekah. Maka laki-laki itu berdoa, 'Ya Allah, segala puji bagi-Mu yang telah mentakdirkan sedekahku jatuh di tangan pelacur. Aku akan bersedekah lagi.' Ia pun pergi dengan membawa sedekahnya, lalu diberikannya kepada orang kaya. Esok harinya, orang-orang pun membicarakannya bahwa tadi malam ada orang yang memberi sedekah kepada orang kaya. Maka laki-laki itu pun berkata, 'Ya Allah, Untuk-Mulah segala puji, karena Engkau telah menjadikan sedekahku jatuh di tangan orang yang kaya, aku akan bersedekah lagi.' Kemudian ia pergi lagi dengan membawa sedekahnya dan diberikannya kepada pencuri. Esok harinya, orang-orang pun membicarakannya, bahwa tadi malam ada orang yang bersedekah kepada pencuri. Laki-laki yang bersedekah itu pun berujar, 'Segala puji bagi Allah yang telah mentakdirkan sedekahku jatuh pada pelacur, kepada orang kaya, dan kepada pencuri.' Kemudian laki-laki itu didatangi malaikat seraya berkata, 'Sedekahmu telah diterima oleh Allah. Adapun shadaqahmu yang jatuh ke tangan perempuan pelacur, semoga ia berhenti dari perbuatan melacur, yang jatuh kepada orang kaya semoga dia menyadari dirinya dan bersedekah pula, sedangkan yang jatuh kepada si pencuri, semoga ia berhenti mencuri.'"
Telah menceritakan kepada kami [Suwaid bin Sa'id] telah menceritakan kepadaku [Hafsh bin Maisarah] dari dari [Musa bin Uqbah] dari [Abu Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Ada seorang laki-laki berkata, 'Malam ini, aku benar-benar akan bersedekah.' Maka laki-laki itu pun keluar membawa sedekahnya, dan disedekahkannya kepada wanita pelacur. Esok harinya, orang-orang pun mengatakan bahwa tadi malam ada pelacur yang diberi sedekah. Maka laki-laki itu berdoa, 'Ya Allah, segala puji bagi-Mu yang telah mentakdirkan sedekahku jatuh di tangan pelacur. Aku akan bersedekah lagi.' Ia pun pergi dengan membawa sedekahnya, lalu diberikannya kepada orang kaya. Esok harinya, orang-orang pun membicarakannya bahwa tadi malam ada orang yang memberi sedekah kepada orang kaya. Maka laki-laki itu pun berkata, 'Ya Allah, Untuk-Mulah segala puji, karena Engkau telah menjadikan sedekahku jatuh di tangan orang yang kaya, aku akan bersedekah lagi.' Kemudian ia pergi lagi dengan membawa sedekahnya dan diberikannya kepada pencuri. Esok harinya, orang-orang pun membicarakannya, bahwa tadi malam ada orang yang bersedekah kepada pencuri. Laki-laki yang bersedekah itu pun berujar, 'Segala puji bagi Allah yang telah mentakdirkan sedekahku jatuh pada pelacur, kepada orang kaya, dan kepada pencuri.' Kemudian laki-laki itu didatangi malaikat seraya berkata, 'Sedekahmu telah diterima oleh Allah. Adapun shadaqahmu yang jatuh ke tangan perempuan pelacur, semoga ia berhenti dari perbuatan melacur, yang jatuh kepada orang kaya semoga dia menyadari dirinya dan bersedekah pula, sedangkan yang jatuh kepada si pencuri, semoga ia berhenti mencuri.'"
Telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin Umar Abu Al Mundzir] berkata; telah menceritakan kepada kami [Dawud bin Qais Al Farra'] berkata; telah menceritakan kepada kami [Iyadh bin Abdullah bin Sa'd bin Abu Sarh] dari [Abu Sa'id Al Khudri] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika keluar pada hari iedul fitri, shalat dua raka'at bersama manusia kemudian salam, setelah itu beliau berdiri dan menghadap ke arah manusia yang berada dalam kondisi duduk. Lalu beliau bersabda: "Bersedekahlah, " beliau ulangi hingga tiga kali. Ketika itu yang paling banyak bersedekah adalah kaum wanita, yaitu dengan anting, cincin dan perhiasan yang lainnya. Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam jika mempunyai hajat pengiriman pasukan, menyebutkannya kepada mereka, dan jika tidak beliau berlalu pergi."
Telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Dawud bin Qais] berkata; telah menceritakan kepadaku [Iyadh] berkata; telah menceritakan kepadaku [Abu Sa'id] ia berkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam keluar pada hari ied, -Yahya berkata; aku tidak mengetahuinya kecuali bahwa ia mengatakan, - "Iedul fitri dan adlha, beliau shalat dua raka'at bersama manusia, kemudian beliau bangun berdiri menghadap ke arah manusia seraya bersabda: "Bersedekahlah kalian, " dan yang paling banyak bersedekah pada waktu itu adalah kaum wanita." Abdurrazzaq berkata; "Yaitu dengan memberikan anting dan cincin serta perhiasan yang lain, " lalu ia menyebutkan makna hadis."beliau jika membutuhkan keperluan guna pengiriman pasukan, menyebutkannya dan jika tidak beliau berlalu pergi."
Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Ayyub] dan [Qutaibah] dan [Ibnu Hujr] mereka berkata, telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin Ja'far] dari [Dawud bin Qais] dari [Iyadl bin Abdullah bin Sa'd] dari [Abu Sa'id Al Khudri] bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ketika keluar pada hari 'iedul Fitri dan 'iedul Adlha, beliau selalu memulainya dengan shalat. Dan jika beliau telah selesai mengerjakan shalat dan menutupnya dengan salam, beliau segera berdiri menghadap ke arah para jama'ah yang sedang duduk di tempat mereka shalat. Apabila beliau memiliki suatu keperluan seperti ingin mengutus sebuah pasukan beliau mengumumkannya kepada para jama'ah, atau beliau memiliki keperluan lain beliau menyuruh mereka agar mengerjakannya. Dan beliau selalu bersabda: "Bersedekahlah kalian, bersedekahlah kalian, bersedekahlah kalian!." Dan orang yang paling banyak bersedekah adalah dari kalangan kaum wanita. Kemudian setelah itu beliau baru meninggalkan lapangan. Hal ini masih terus berlangsung sampai pada masa Marwan bin Al Hakam. Aku keluar dengan menggandeng Marwan hingga sampai di lapangan. Namun ternyata Katsir bin Ash Shalt telah membangun mimbar yang terbuat dari tanah dan batu bata. Dan tiba-tiba Marwan menarik tanganku seakan-akan ia menyuruhku naik ke mimbar dan memulainya dengan khutbah terlebih dahulu, dan akupun menyuruhnya untuk memulainya dengan shalat terlebih dahulu. Ketika aku melihat kejadian itu, aku berkata kepadanya, "Mulailah dengan shalat!" Namun ia menjawab, "Tidak wahai Abu Sa'id, sesuatu yang kau ketahui itu telah ditinggalkan." Aku menjawab, "Sekali-kali tidak, demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, setahuku kalian tidak akan mendatangkan kebaikan sedikitpun (ia mengulangi hingga tiga kali)." Kemudian ia pergi meninggalkan tempat itu.
Telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] berkata, telah menceritakan kepada kami [Dawud bin Qais] dari ['Iyadh bin Abdullah] berkata, telah mengabarkan kepadaku [Abu Sa'id Al Khudri] ia berkata, "Pada hari ied Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar dan shalat dua raka'at bersama manusia kemudian salam. Setelah itu beliau berdiri di atas kedua kakinya, beliau menghadap ke arah manusia yang sedang duduk seraya bersabda: "Bersedekahlah kalian, bersedekahlah kalian, bersedekahlah kalian, " maka yang paling banyak bersedekah adalah kaum wanita, dengan anting, cincin dan sesuatu. " Jika ada suatu keperluan untuk mengirim pasukan, beliau menyebutkannya kepada mereka, dan jika tidak maka beliau langsung pergi berlalu. "
Telah menceritakan kepada kami [Yazid] telah mengkabarkan kepada kami [Muhammad bin Ishaq] dari [Abu Az Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah], dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Permisalan seorang bakhil dengan orang yang suka berinfaq adalah seperti dua orang laki-laki yang mengenakan baju besi yang membungkus tulang dadanya. Adapun orang yang suka berinfaq, tidaklah ia berinfaq kecuali baju besi itu seakan membesar dan memberikan kelonggaran baginya, sedangkan bagi orang yang bakhil baju besi tersebut tidak bertambah besar dan memberi kelonggaran kecuali hanya sebagai alat pengaman saja."
Telah menceritakan kepada kami ['Affan] telah menceritakan kepada kami [Wuhaib] berkata; telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Thawus] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Permisalan orang bakhil dengan orang yang suka berinfaq adalah seperti dua orang laki-laki yang mengenakan baju besi yang membungkus tulang dadanya. Adapun orang yang suka berinfaq, setiap ia ingin berinfaq baju besi itu seakan akan membesar dan memberikan kelonggaran baginya sehingga dosanya dihapuskan, sedangkan bagi orang yang bakhil setiap ia ingin berinfaq baju besi tersebut mengecil dan menghimpitnya." Abu Hurairah berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ia berusaha agar baju besinya lapang, namun tidak bisa lapang."
Telah menceritakan kepada kami [Abdul Malik bin 'Amru], dia berkata; telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin Nafi'] dari [Al Hasan bin Muslim] dari [Thawus] dari [Abu Hurairah], ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam membuat perumpamaan antara orang bakhil dengan orang yang suka bersedekah seperti dua orang laki-laki yang memakai jubah (semacam baju besi), jubah tersebut menghimpit kedua tangan, dada dan lehernya. Maka orang yang suka bersedekah, setiap ia memberikan sedekahnya, baju tersebut membesar sehingga menutupi ujung jarinya, dan menghapus kesalahannya. Sedangkan orang yang bakhil setiap kali ingin bersedekah jubah tersebut menyempit sehingga menghimpit tubuhnya." Abu Hurairah, dia berkata; Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dengan isyarat dua jarinya pada jubahnya; "Jika engkau perhatikan, setiap mereka mengharap agar jubahnya menjadi lapang, jubah tersebut tidak bisa menjadi lapang."
Telah menceritakan kepada kami [Musa] telah menceritakan kepada kami [Wuhaib] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Thawus] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] berkata; Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Perumpamaan orang bakhil dengan orang yang bershadaqah seperti dua orang yang masing-masing mengenakan baju jubah terbuat dari besi". Dan telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] telah menceritakan kepada kami [Abu Az Zanad] bahwa ['Abdurrahman] menceritakan kepadanya bahwa dia mendengar [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Perumpamaan bakhil (orang pelit bershadaqah) dengan munfiq (orang yang suka berinfaq) seperti dua orang yang masing-masing mengenakan baju jubah terbuat dari besi yang hanya menutupi buah dada hingga tulang selangka keduanya. Adapun orang yang suka berinfaq, tidaklah dia berinfaq melainkan bajunya akan melonggar atau menjauh dari kulitnya hingga akhirnya menutupi seluruh badannya sampai kepada ujung kakinya. Sedangkan orang yang bakhil, setiap kali dia tidak mau berinfaq dengan suatu apapun maka baju besinya akan menyempit sehingga menempel ketat pada setiap kulitnya dan ketika dia mencoba untuk melonggarkannya maka dia tidak dapat melonggarkannya". Hadits ini dikuatkan pula oleh [Al Hasan bin Muslim] dari [Thawus] (dengan redaksi): "… pada dua baju". Dan berkata, [Hanzhalah] dari [Thawus]: "…… mengenakan jubah". Dan berkata, [Al Laits] telah menceritakan kepada saya [Ja'far] dari [Ibnu Hurmuz]; Aku mendengar [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam: "…… mengenakan jubah".
Telah bercerita kepada kami [Musa bin Isma'il] telah bercerita kepada kami [Wuhaib] telah bercerita kepada kami [Ibnu Thowus] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perumpamaan bakhil (orang yang pelit bershadaqah) dengan mutashoddiq (orang yang suka bershadaqah) seperti dua orang yang masing-masing mengenakan baju jubah terbuat dari besi yang terpotong bagian lengannya hingga tulang selangka keduanya. Setiap kali mutashoddiq hendak bershadaqah maka bajunya akan melonggar dan akhirnya menutupi sampai kepada ujung kakinya. Dan setiap orang yang bakhil hendak bershadaqah maka baju besinya akan menyempit sehingga menempel ketat pada pemakainya dan ketika dia mencoba untuk melonggarkannya maka tangannya menjadi terangkat sampai ke tulang selangkanya". Maka dia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Maka dia berusaha untuk melonggarkannya namun tidak bisa".
Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] dari [Al A'masy] telah bercerita kepadaku [Syaqiq] berkata; Aku mendengar [Hudzaifah] dan [Waki'] darri [Al A'masy] dari [Syaqiq] dari [Hudzaifah] dan telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Ubaid] berkata; Kami duduk dikediaman 'Umar lalu ia bertanya: Siapa diantara kalian yang hafal sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam tentang berbagai fitnah? [Hudzaifah bin Al Yaman] menjawab: Aku hafal seperti yang beliau sabdakan. 'Umar berkata; kau gegabah atas beliau. Aku Hudzaifah bin Al Yaman berkata; Fitnah seseorang terhadap keluarga, harta dan tetangganya yang (dosanya) bisa dihapus dengan shalat, sedekah, memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Berkata 'Umar: Bukan itu yang aku maksud, tapi fitnah yang bergelombang layaknya samudera. Aku Hudzaifah bin Al Yaman berkata; Kau tidak bermasalah dengannya wahai Amirul Mu`minin, diantaramu dengan fitnah itu ada pintu yang tertutup. 'Umar bertanya: Apakah didobrak atau dibuka? Hudzaifah bin Al Yaman menjawab: Didobrak. 'Umar berkata; Kalau begitu berarti tidak tertutup. Kami bertanya: Apakah 'Umar tahu siapakah pintu itu? Hudzaifah bin Al Yaman menjawab: Ya, seperti halnya ia tahu bahwa yang menghalangi hari ini dan hari esok adalah malam hari. Berkata Waki' dalam hadisnya: Berkata Masruq kepada Hudzaifah bin Al Yaman: Hai Abu 'Abdullah! 'Umar mengetahui yang ia ceritakan. Kami bertanya: Apakah 'Umar tahu siapakah pintu itu. Masruq menjawab: Ya, seperti halnya ia tahu bahwa yang menghalangi hari ini dan hari esok adalah malam hari, aku diberitahu suatu hadis yang tidak salah tapi kami takut pada Hudzaifah bin Al Yaman untuk menanyakan siapakah pintu itu, lalu kami memerintah Masruq lalu bertanya padanya, ia Hudzaifah bin Al Yaman menjawab: Pintu itu adalah 'Umar.
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Al A'masy] dari [Abu Wa'il] dari [Hudzaifah radliallahu 'anhu] berkata; "Pada suatu hari 'Umar radliallahu 'anhu berkata,: "Siapa diantara kalian yang masih hafal hadits Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam tentang masalah fitnah? Hudzaifah berkata,: "Aku, masih hafal sebagaimana disabdakan Beliau". 'Umar berkata,: "Apakah kamu bersama Beliau saat itu atau hanya mendengar sabda Beliau? Dan bagaimana yang disabdakannya?". Aku berkata,: "Yaitu suatu fitnah seseorang dalam keluarganya, harta, anak dan tetangganya. Fitnah itu akan terhapus oleh shalat, shaum. shadaqah dan berbuat kebaikan (ma'ruf) ". Berkata, Sulaiman; "Dia mengatakan shalat, shaum. shadaqah dan amar ma'ruf dan nahiy munkar". Lalu 'Umar berkata,: "Bukan itu yang aku mau. Tapi fitnah yang meluas seperti melubernya air lautan. Hudzaifah berkata,: "Kalau begitu baiklah, tidak masalah buat anda wahai Amirul Mu'minin. Sesungguhnya antara engkau dan fitnah itu ada satu pintu yang tertutup". 'Umar bertanya: "Pintu tersebut harus didobrak atau langsung bisa dibuka?. Hudzaifah berkata,: "Tidak, akan tetapi dia pintu yang harus didobrak". 'Umar berkata,: "Kalau begitu bila pintu itu harus didobrak berarti tidak akan bisa ditutup selamanya" Aku berkata; "Benar apa katamu. Maka persilakanlah kami untuk bertanya kepadanya tentang maksud pintu tersebut. Maka kami berkata, kepada (Masruq): "Tanyakanlah!". Dia berkata,: Maka dia berkata, kepadanya. Maka 'Umar radliallahu 'anhu pun berkata,. Dia berkata,: Maka kami berkata,: "Apakah 'Umar mengerti siapa yang dimaksud dengannya". Hudzaifah berkata,: "Ya, dia mengerti. Sebagaimana mengertinya dia bahwa setelah besok pasti ada malam hari. Dan yang demikian itu karena aku menceritakan kepadanya suatu hadits yang tidak ada kerancuannya.
Telah menceritakan kepada kami ['Ali bin 'Abdullah] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] telah menceritakan kepada kami [Jami'] dari [Abu Wa'il] dari [Hudzaifah radliallahu 'anhu] berkata; "Pada suatu hari 'Umar radliallahu 'anhu berkata: "Siapa yang masih hafal hadits dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang masalah fitnah? Hudzaifah berkata: "Aku mendengarnya saat Beliau bersabda: "Yaitu suatu fitnah seseorang dalam keluarganya, harta, anak dan tetangganya. Namun fitnah itu akan terhapus oleh shalat, shaum. shadaqah". 'Umar berkata: "Aku bertanya bukan masalah itu. Tapi aku bertanya tentang fitnah yang meluas seperti melubernya air lautan. Hudzaifah berkata: "Sesungguhnya selain itu ada satu pintu". 'Umar bertanya: "Pintu itu terbuka atau sudah rusak?". Hudzaifah berkata: "Pintu yang rusak". 'Umar berkata: "Kalau begitu pintu itu tidak akan bisa ditutup hingga hari qiyamat". Maka kami berkata, kepada Masruq: "Tanyakanlah kepadanya apakah 'Umar mengerti siapa yang dimaksud dengan pintu itu". Hudzaifah berkata: "Ya, dia mengerti. Sebagaimana mengertinya dia bahwa setelah besok pasti malam hari".
Telah bercerita kepada kami [Muhammad bin Basysyar] telah bercerita kepada kami [Ibnu Abu 'Adiy] dari [Syu'bah]. Dan diriwayatkan pula, telah bercerita kepadaku [Bisyir bin Khalid] telah bercerita kepada kami [Muhammad] dari [Syu'bah] dari [Sulaiman], aku mendengar [Abu Wa'il] bercerita dari [Hudzaifah] bahwa 'Umar bin Al Khaththab radliallahu 'anhu berkata; "Siapa diantara kalian yang masih ingat sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang masalah fitnah? Maka Hudzaifah berkata; "Aku, masih ingat seperti yang beliau sabdakan" 'Umar berkata; "Sampaikanlah, karena kamu memang yang patut menyampaikannya.", Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Fitnah seseorang dalam keluarganya, harta, anak dan tetangganya, fitnah itu akan terhapus oleh amalan shalat, shaum. shadaqah dan amar ma 'ruf dan nahi munkar." Berkata 'Umar; "Bukan itu yang aku mau. Tapi fitnah yang meluas seperti melubernya air lautan. Hudzaifah berkata; "Wahai Amirul Mu'minin, baiklah, tidak apa aku sampaikan pada anda. Sesungguhnya antara anda dan zamanmu (fitnah itu) ada satu pintu yang tertutup". 'Umar bertanya; "Pintu yang terbuka atau rusak?. Hudzaifah berkata; "Bahkan pintu yang rusak". 'Umar berkata; "Kalau begitu tidak akan bisa ditutup selamanya" Kami (Syaqiq) bertanya: "Apakah 'Umar mengerti pintu yang dimaksud?. Hudzaifah berkata: "Ya, dia mengerti. Sebagaimana mengertinya dia bahwa setelah pagi adalah malam hari". (Syaqiq) berkata; "Aku sudah menceritakan kepadanya suatu hadits yang tidak ada kerancuannya. Tapi marilah kita bertanya kepada Hudzaifah". Maka kami menyuruh Masruq lalu dia bertanya kepada Hudzaifah."Siapakah yang dimaksud dengan pintu?". Jawabnya; "'Umar".
Telah menceritakan kepada kami [Umar bin Hafsh bin Ghiyats] telah menceritakan kepada kami [Ayahku] telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] telah menceritakan kepada kami [Syaqiq] Aku mendengar [Khudzaifah] menuturkan; ketika kami duduk-duduk bersama Umar, tiba-tiba ia bertanya; 'Siapa diantara kalian yang menghapal sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam tentang fitnah? ' maka Khudzaifah menjawab; 'Fitnah seseorang di keluarganya, hartanya dan anaknya serta tetangganya bisa terhapus oleh shalat, sedekah, dan amar ma'ruf nahyi mungkar.' Umar berkata; 'Bukan tentang ini yang aku tanyakan kepadamuakan tetapi tentang (fitnah) yang bergelombang seperti gelombang lautan.' Khudzaifah berkata; 'kamu tidak terkena dampaknya dari fitnah itu ya amirul mukminin, sebab antara kamu dan fitnah itu terdapat pintu tertutup.' Umar bertanya; 'Apakah pintunya dipecahkan atau dibuka? ' Khudzaifah menjawab; 'bahkan di pecahkan.' Maka Umar berkata; 'kalau begitu tidak ditutup selama-lamanya.' aku menjawab; 'Betul.' Saya bertanya kepada Khudzaifah; 'Apakah Umar mengetahui pintu itu? ' Khudzaifah menjawab; 'Ya, sebagaimana ia mengetahui bahwa setelah esok ada malam, yang demikian itu karena aku menceritakan Hadits kepadanya dengan tanpa kekeliruan, maka kami khawatir untuk menanyakan kepada Umar siapa pintu sebenarnya.' lalu kami perintahkan kepada Masruq untuk bertanya kepada Khudzaifah; (siapakah pintu itu), Khudzaifah menjawab; 'Umar.'
Telah menceritakan kepada kami ['Arim] dan ['Affan] keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami [Mahdi bin Maimun] telah menceritakan kepada kami [Washil] mantan budak Abu Uyainah, dari [Yahya bin Uqail] dari [Yahya bin Ya'mar] dari [Abul Aswad Ad Dili] dari [Abu Dzar] ia berkata, "Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborang pahala. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami puasa, namun mereka dapat bersedekah dengan kelebihan hartanya." Beliau bersabda: "Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian apa-apa yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih ada sedekah, pada setiap tahmid ada sedekah dan pada setiap tahlil ada sedekah. Menyuruh kebaikan adalah sedekah, melarang dari kemungkaran adalah sedekah, dan mendatangi (mensetubuhi) isterimu juga sedekah." Para sahabat bertanya."Wahai Rasulullah, apakah jika seseorang memenuhi kebutuhan syahwatnya itu pun mendatangkan pahala?" Beliau bersabda, "Bagaimana menurutmu jika ia menempatkan pada tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Demikian pula bila ia menempatkan pada tempat yang halal, maka ia akan mendapatkan pahala." ['Affan] menyebutkan, "Kalian bersedekah." Ia menambahkan, "Tahlil dan Takbir adalah sedekah, menyuruh pada kebaikan adalah sedekah, demikian juga mencegah kemungkaran dan melakukan persetuhuhan." Telah menceritakan kepada kami [Abu Nadlr] telah menceritakan kepada kami [Mahdi], namun tidak disebutkan nama Abul Aswad."
Telah menceritakan kepada kami [Wahab bin Jarir] telah menceritakan kepada kami [Mahdi bin Maimun] dari [Washil] dari [Yahya bin Uqail] dari [Yahya bin Ya'mar] dari [Abul 'Aswad Ad Dili] dari [Abu Dzar] berkata, ia berkata, "Dikatakan, "Wahai Rasulullah, orang-orang kaya pergi dengan membawa pahala yang banyak, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka!. Nabi bersabda: "Bukankah Allah telah menjadikan bagi kamu sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap tahmid adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah kemungkaran adalah sedekah, dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan isterinya) adalah sedekah." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya ia akan mendapat pahala?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Apa pendapat kalian jika ia menempatkannya kepada sesuatu yang haram, apakah ia berdosa?" Para sahabat menjawab, "Tentu." Beliau bersabda: "Demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, maka ia akan mendapat pahala."
Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Muhammad bin Asma` Adl Dluba'i] Telah menceritakan kepada kami [Mahdi bin Maimun] Telah menceritakan kepada kami [Washil] maula Abu Uyainah, dari [Yahya bin Uqail] dari [Yahya bin Ya'mar] dari [Abul Aswad Ad Dili] dari [Abu Dzar] bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada beliau, "Wahai Rosulullah, orang-orang kaya dapat memperoleh pahala yang lebih banyak. Mereka shalat seperti kami shalat, puasa seperti kami puasa dan bersedekah dengan sisa harta mereka." Maka beliau pun bersabda: "Bukankah Allah telah menjadikan berbagai macam cara kepada kalian untuk bersedekah? Setiap kalimat tasbih adalah sedekah, setiap kalimat takbir adalah sedekah, setiap kalimat tahmid adalah sedekah, setiap kalimat tahlil adalah sedekah, amar ma'ruf nahi munkar adalah sedekah, bahkan pada kemaluan seorang dari kalian pun terdapat sedekah." Mereka bertanya, "Wahai Rasulullah, jika salah seorang diantara kami menyalurkan nafsu syahwatnya, apakah akan mendapatkan pahala?" beliau menjawab: "Bagaimana sekiranya kalian meletakkannya pada sesuatu yang haram, bukankah kalian berdosa? Begitu pun sebaliknya, bila kalian meletakkannya pada tempat yang halal, maka kalian akan mendapatkan pahala."
Telah menceritakan kepada kami [Abbas bin Abdul Azhim Al Anbari], telah menceritakan kepada kami [An Nadlr bin Muhammad Al Jurasyi Al Yamami], telah menceritakan kepada kami [Ikrimah bin Ammar], telah menceritakan kepada kami [Abu Zuamail] dari [Malik bin Martsad] dari [bapaknya] dari [Abu Dzarr] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau berbuat ma'ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah." Hadits semakna diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud, Jabir, Hudzaifah, 'Aisyah dan Abu Hurairah. Berkata Abu 'Isa: Ini merupakan hadits hasan gharib dan Abu Zumail bernama Simak bin Walid Al Hanafi.
Telah bercerita kepada kami [Ishaq bin Manshur] telah mengabarkan kepada kami ['Abdur Rozaq] telah mengabarkan kepada kami [Ma'amr] dari [Hammam] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap ruas tulang pada manusia wajib atasnya shadaqah dan setiap hari terbitnya matahari di mana seseorang mendamaikan antara manusia maka terhitung sebagai shadaqah".
Telah menceritakan kepada kami [Waki'] telah bercerita kepada kami [Syu'bah] dari ['Adi bin Tsabit] dari ['Abdullah bin Yazid] dari [Abu Mas'ud Al Anshari] berkata; Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda; "Nafkah seseorang untuk keluarganya jika disertai harapan memperoleh ganjaran, maka terhitung sebagai sedekah."
Telah menceritakan kepada kami ['Affan] Telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] ['Adi bin Tsabit] berkata; telah mengabarkan kepadaku, berkata; saya telah mendengar [Abdullah bin Yazid] menceritakan dari [Abu Mas'ud], saya berkata; dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, berkata; dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Seorang muslim jika menginfakkan kepada keluarganya dengan mengharap pahala dan balasan dari Allah Ta'ala, maka itu menjadi zakat baginya.
Telah bercerita kepada kami [Muhammad bin Ja'far] dan [Bahz] berkata; telah bercerita kepada kami [Syu'bah] dari ['Adi bin Tsabit] berkata; saya telah mendengar [Abdullah bin Yazid Al Anshari] menceritakan dari [Abu Mas'ud], [Bahz]. Al Badari berkata; dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam sesungguhnya beliau bersabda: "Sesungguhnya seorang muslim jika dia berinfak atas keluarganya dan dia mengharap pahala dan balasan dari Allah Azzawajalla, itu menjadi sedekah baginya."
Telah menceritakan kepada kami [Hajjaj bin Minhal] berkata, telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] berkata, telah mengabarkan kepadaku ['Adi bin Tsabit] berkata: Aku pernah mendengar [Abdullah bin Yazid] dari [Abu Mas'ud] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Apabila seseorang memberi nafkah untuk keluarganya dengan niat mengharap pahala maka baginya Sedekah".
Telah menceritakan kepada kami [Al Hakam bin Nafi'] berkata, telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhri] berkata, telah menceritakan kepadaku ['Amir bin Sa'd] dari [Sa'd bin Abu Waqash] bahwasanya dia mengabarkan, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya, tidaklah kamu menafkahkan suatu nafkah yang dimaksudkan mengharap wajah Allah kecuali kamu akan diberi pahala termasuk sesuatu yang kamu suapkan ke mulut istrimu".
Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Isa] telah menceritakan kepada kami [Al Munkadir bin Muhammad bin Al Munkadir] dari [bapaknya] dari [Jabir bin Abdullah] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap yang baik adalah sedekah, dan diantara kebaikan adalah kamu bertemu saudaramu dengan wajah ceria, dan kamu menuangkan air dari timba kamu pada bejana (baskom) nya".
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] Telah menceritakan kepada ku [Al Munkadir bin Muhammad Al Munkadir] dari [bapaknya] dari [Jabir bin Abdullah] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap hal yang baik adalah sedekah. Termasuk dari kebaikan adalah kamu bertemu dengan saudaramu dengan wajah ceria dan kamu mengisi ember saudaramu dengan timbamu".
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Bisyr] telah menceritakan kepadaku [Abdul Jabbar bin Abbas] dari [Adi bin Tsabit] dari [Abdullah bin Yazid Al Al Khathmi] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap kebaikan adalah sedekah."
Telah menceritakan kepada kami ['Affan], telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Salamah], telah menceritakan kepada kami [Yunus], telah menceritakan kepada kami ['Abidah Al Hujaimi] dari [Abu Tamimah Al Hujaimi] dari [Abu Jurai Jabir bin Sulaim] ia berkata; Aku datang kepada Rasulullah Shallalahu 'Alaihi Wasallam, waktu itu beliau tengah berselimutkan selendang yang ujungnya sampai menyentuh kedua kakinya, kemudian aku bertanya; "Siapakah yang bernama Muhammad atau Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam di antara kalian?, lalu beliau menunjuk pada dirinya. aku pun berkata; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku dari penduduk dusun, sementara diriku adalah orang yang bodoh diantara mereka, maka berilah aku wasiat!" beliau bersabda: "Janganlah kamu meremehkan kebaikan sekecil apapun, sekalipun hanya dengan menuangkan ember airmu ke bejana orang yang membutuhkan air. Jika ada seseorang yang mencacimu dan menghinamu karena dia tahu tentang dirimu, maka janganlah kamu membalas menghinanya, dengan sesuatu yang kamu tahu dengan dia, karena itu akan menjadi pahalamu dan akan menjadi dosa baginya. Janganlah kamu sekali-kali mencaci seseorang, dan jauhilah olehmu isbal (menurunkan kain dibawah mata kaki), karena isbal adalah bagian dari kesombongan, karena Allah Azza wa Jalla sangat membencinya, dan janganlah kamu menghina seseorang!." Setelah itu aku tidak pernah menghina seorang pun, tidak juga menghina kambing atau keledai."
Telah menceritakan kepada kami [Rauh] telah menceritakan kepada kami [Abu Amir Al Khazaz] dari [Abu Imran Al JAuni] dari [Abdullah bin Shamit] dari [Abu Dzar] dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam, beliau bersabda: "Jangan sekali-kali engkau meremehkan kebaikan sedikit pun, jika engkau tidak mendapatkan sesuatu pun (untuk sedekah), maka temuilah saudaramu dengan wajah yang ceria."
Telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Yusuf] telah menceritakan kepada kami [Israil] telah menceritakan kepada kami [Abu Al Juwairiyah Al Jurmi] bahwa [Ma'n bin Yazid] telah menceritakan kepadanya, ia berkata, "Aku bersama bapak dan kakekku membaiat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Ayahku lalu meminang dan menikahkan aku. Dan aku juga mengajukan perkara kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam; ayahku yang bernama Yazid pernah mengeluarkan beberapa dinar untuk bersedekah, kemudian ia meletakkannya pada seorang laki-laki di masjid. Aku lalu datang dan mengambilnya, kemudian aku membawa uang tersebut kepadanya. Maka ia pun berkata, "Demi Allah, bukan engkau yang aku inginkan dengan sedekah itu! " Kemudian aku mengajukan perkara tersebut kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, beliau pun bersabda: "Bagimu apa yang telah engkau niatkan wahai Yazid dan untukmu apa yang telah engkau ambil wahai Ma'n."
Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadis sebelumnya; dari [Abu Hurairah]; Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Seorang wanita tidak dibolehkan berpuasa (sunnah, pent) sedang suaminya ada kecuali dengan seizinnya, tidak boleh memasukkan seseorang sedang suaminya ada kecuali dengan seizinnya, dan apa-apa yang ia infaqkan dari hartanya tanpa perintah darinya maka separuh dari pahalanya adalah untuk suaminya."
Telah menceritakan kepada kami [Abul Yaman] Telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] Telah menceritakan kepada kami [Abu Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah] radliallahu 'anhu, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak halal bagi seorang wanita untuk berpuasa sementara sementara suaminya ada di rumah, kecuai dengan seizinnya. Dan tidak boleh mengizinkan seseorang masuk ke dalam rumahnya kecuali dengan seizinnya. Dan sesuatu yang ia infakkan tanpa seizinnya, maka setengahnya harus dikembalikan pada suaminya." Hadits ini juga diriwayatkan oleh [Az Zinad] dari [Musa] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah] dalam bab shaum.
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Rafi'] telah menceritakan kepada kami [Abdurrazaq] telah menceritakan kepada kami [Ma'mar] dari [Hammam bin Munabbih] ia berkata; ini adalah hadis yang telah diceritakan oleh [Abu Hurairah] kepada kami, dari Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam -ia pun menyebutkan beberapa hadis, di antaranya adalah- Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang wanita janganlah berpuasa (sunnah) ketika suaminya ada, kecuali dengan seizinnya. Dan jangan pula ia membolehkan orang lain masuk ke rumahnya melainkan dengan izin suaminya. Dan sesuatu yang disedekahkan oleh sang isteri dari usaha suaminya tanpa perintah suami, maka setengah dari pahala sedekah itu bagi suaminya."
Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Umar] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari ['Amru bin Dinar] dari [seseorang] anak Ummu Salamah, dari [Ummu Salamah] ia berkata; "Wahai Rasulullah, aku tidak mendengar Allah menyebut kaum wanita dalam hijrah." Lalu Allah Ta'ala menurunkan Maka Rabb mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): 'Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. QS Ali Imran: 195.
Telah menceritakan kepada kami [Abdurrazzaq] telah mengabarkan kepada kami [Ma'mar] dari [Az Zuhri] dari [Humaid bin Abdurrahman] dari [Abu Hurairah], dia berkata; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Barangsiapa menginfaqkan Zaujain dari hartanya (sesuatu yang berpasangan seperti dua kuda, atau dua budak, pent) di jalan Allah, maka ia akan dipanggil dari setiap pintu-pintu surga. Sesungguhnya surga memiliki beberapa pintu, barangsiapa dari ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat, ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah, ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad dan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Royyan." Lalu Abu Bakar berkata; "Wahai Rasulullah, setiap dari mereka dipanggil dari pintu yang sesuai dengan keahliannya, lalu apakah ada orang yang akan dipanggil dari setiap pintu?" Beliau menjawab: "Ya, dan aku berharap engkau salah satu dari mereka."
Telah menceritakan kepada kami [Mu'awiyah] telah menceritakan kepada kami [Abu Ishaq] -yaitu Al Fazari- dari [Al A'masy] dari [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa menafkahkah sepasang, -atau beliau mengatakan: - "dua pasang dari hartanya, -aku melihatnya beliau bersabda: - "di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh penjaga surga; 'Wahai muslim, perbuatan ini baik, kemarilah." Abu bakr berkata; "Laki-laki tersebut tidak memenuhinya, " lalu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada harta yang memberiku manfaat kecuali harta Abu Bakar." Abu Hurairah berkata; Maka menangislah Abu Bakar, lalu ia berkata; "Apakah Allah akan memberiku manfaat kecuali karena engku, apakah Allah akan memberiku manfaat kecuali karena engaku, apakah Allah akan memberiku manfaat kecuali karena engaku."
Masih melalui jalur periwayatan yang sama seperti hadis sebelumnya dari [Abu Dzar]; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang Muslim bersedekah dengan sesuatu yang berpasanagan dari hartanya di jalan Allah, kecuali para Malaikat penjaga surga akan berebut menyambutnya, mereka semua akan memanggilnya untuk sesuatu yang akan diberikan kepadanya." Aku (Abu Dzar) lalu bertanya, "Bagaimana itu?" Beliau menjawab: "Jika itu (budak) lelaki maka dengan dua lelaki, bila unta maka dengan dua unta, dan jika sapi maka dengan dua sapi."
Telah menceritakan kepada kami [Abdul Malik bin Amru] telah menceritakan kepada kami [Qurrah] dari [Hasan] dari [Sha'sha'ah bin Mu'awiyah] dia berkata, "Aku telah bertemu dengan [Abu Dzar] di Rabadzah, dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa bersedekah dengan sepasang barang (harta) miliknya di jalan Allah Azza Wa Jalla, maka para Malaikat penjaga surga akan berebut kepadanya."
Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] dari [Qurrah] telah menceritakan kepada kami [Hasan] telah menceritakan kepadaku [Sha'sha'ah bin Mu'awiyah] berkata, "Sesampainya aku di Rabdzah, [Abu Dzar] menemuiku yang ketika itu ia berada di tengah unta-unta kendaraan yang sedang ia giring untuk meminum air, kemudian ia gembalakan, ia juga mengalungkan geriba di leher untanya agar para sahabatnya bisa minum dan memberikannya kepada para sahabatnya. Dan ini adalah kebiasaan orang-orang Arab. Aku lalu bertanya, 'Wahai Abu Dzar, mengapa kau berbuat seperti itu? Ia menjawab, "Ya, karena amalanku adalah untukku diriku sendiri." Aku berkata, 'Heh! Wahai Abu Dzar, apa yang kau dengar dari sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam? ' Ia menjawab, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapa saja yang menginfakkan sepasang dari hartanya maka para Malaikat berebut kepadanya." Kami bertanya, 'Dua pasang itu apa? ' Ia menjawab, "Apabila ia berkendaran maka dua kendaraan, bila kuda maka dua kuda tunggangan, bila unta maka dua ekor unta…hingga ia menyebutkan semua tingkatan harta."
Telah menceritakan kepada kami [Rauh bin Ubadah] berkata, telah menceritakan kepada kami [Malik] dari [Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah] ia mendengar [Anas bin Malik] berkata; Abu Thalhah adalah orang Anshar yang paling banyak hartanya. Dan harta yang paling ia sukai dari harta miliknya adalah bairuha` (kebun) yang berhadapan dengan masjid. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam biasa memasukinya untuk minum airnya yang jernih segar. Anas berkata; ketika turun ayat: (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai). (QS. Ali'Imran 92), Maka Abu Thalhah berkata; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah telah berfirman: (Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebahagian harta yang kamu cintai), dan harta yang paling aku sukai adalah kebun Bairuha`, maka ia sekarang kuniatkan sebagai sedekah bagi Allah 'azza wajalla. Dan aku mengharap kebaikan dan simpanannya di sisi Allah. Wahai Rasulullah, sekarang aturlah ia sesukamu." Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pun bersabda: "Amboi, itu adalah harta yang menguntungkan, itu adalah harta yang menguntungkan! Aku telah mendengar, namun aku melihat sepertinya lebih baik itu engkau sedekahkan untuk kerabat-kerabatmu." Lalu Abu Thalhah berkata; "Wahai Rasulullah, aku akan melakukannya." Anas berkata; Maka Abu Thalhah pun membagi-bagikan kepada kerabat dan anak-anak pamannya."
Telah menceritakan kepada kami ['Affan] Telah menceritakan kepada kami [Hammad] berkata; telah mengabarkan pada kami [Tsabit] dari [Anas Bin Malik] berkata; tatkala turun ayat, Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Abu Thalhah berkata; Wahai Rasulullah, saya melihat Robb kita meminta harta kita, maka saksikanlah saya hendak memberikan tanahku di Bairuha' kepada Allah Azzawajalla. (Anas bin Malik radliyallahu'anhu) berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Berikanlah kepada kerabatmu". Lalu dia membagi kepada Hassan bin Tsabit dan Ubay bin Ka'b. ['Affan] berkata; dan [Yazid] berkata; dari [Humaid] dari [Anas], (dengan lafad) "Barihan" dan 'Affan berkata; saya telah bertanya kepada lebih dari satu orang dari penduduk Madinah, mereka berkeyakinan Bairuha' dan jika dikatakan Bairoha nggak masalah.
Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Ishaq bin 'Abdullah bin Abu Thalhah] bahwa dia mendengar [Anas bin Malik radliallahu 'anhu] berkata; Abu Thalhah adalah orang yang paling banyak hartanya dari kalangan Anshar di kota Madinah berupa kebun pohon kurma dan harta benda yang paling dicintainya adalah Bairuha' (sumur yang ada di kebun itu) yang menghadap ke masjid dan Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam sering mamemasuki kebun itu dan meminum airnya yang baik tersebut. Berkata, Anas; Ketika turun firman Allah Ta'ala (QS Alu 'Imran: 92 yang artinya): "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai", Abu Thalhah mendatangi Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam lalu berkata; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman: "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai", dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha' itu dan aku menshadaqahkannya di jalan Allah dengan berharap kebaikan dan simpanan pahala di sisiNya, maka ambillah wahai Rasulullah sebagaimana petunjuk Allah kepadanu". Dia (Anas) berkata,: "Maka Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: Wah, inilah harta yang menguntungkan, inilah harta yang menguntungkan. Sungguh aku sudah mendengar apa yang kamu niyatkan dan aku berpendapat sebaiknya kamu shadaqahkan buat kerabatmu". Maka Abu Thalhah berkata,: "Aku akan laksanakan wahai Rasululloloh. Maka Abu Thalhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya". Hadits ini juga dikuatkan oleh [Rauh] dan berkata, [Yaha bin Yahya] dan [Isma'il] dari [Malik]: "Pahalanya mengalir terus".
Telah menceritakan kepada saya [Yahya bin Yahya] berkata, aku membacakan kepada [Malik] dari [Ishaq bin 'Abdullah] bahwa dia mendengar [Anas bin Malik radliallahu 'anhu] berkata; Abu Tholhah adalah orang yang paling banyak hartanya dari kalangan Anshar di kota Madinah berupa dan harta yang paling dicintainya adalah Bairuha' (ladang berikut sumur yang ada di kebun itu) yang menghadap ke masjid dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam senantiasa mamemasuki kebun itu dan meminum airnya yang baik tersebut. Ketika turun firman Allah Ta'ala (QS Alu 'Imran: 92 yang artinya): "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai", Abu Tholhah mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman: "Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai", dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha' itu dan aku menshadaqahkannya di jalan Allah dengan berharap kebaikan dan simpanan pahala di sisiNya, maka ambillah wahai Rasulullah kapanpun baginda mau". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Wah, inilah harta yang menguntungkan, inilah harta yang menguntungkan. Sungguh aku sudah mendengar apa yang kamu ucapkan dan aku berpendapat sebaiknya kamu shadaqahkan buat kerabatmu". Maka Abu Tholhah berkata: "Aku akan laksanakan wahai Rasululloloh. Maka Abu Tholhah membagi untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya". Hadits ini juga diikuti oleh [Isma'il] dari [Malik]. Dan [Rauh] berkata dari [Malik]: "Pahalanya mengalir terus"
Telah bercerita kepada kami ['Abdullah bin Maslamah] dari [Malik] dari [Ishaq bin 'Abdullah bin Abu Thalhah] bahwa dia mendengar [Anas bin malik radliallahu 'anhu] berkata: Abu Thalhah adalah orang yang paling banyak hartanya dari kalangan Anshor di kota Madinah berupa kebun pohon kurma dan harta benda yang paling dicintainya adalah Bairuha' (sumur yang ada di kebun itu) yang menghadap ke masjid dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sering mamasuki kebun itu dan meminum airnya yang baik tersebut. Berkata Anas; Ketika turun firman Allah Ta'ala QS Alu 'Imran: 92 yang artinya: ("Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai"), Abu Thalhah mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata; "Wahai Rasulullah, sesungguhnya Allah Ta'ala telah berfirman: ("Kamu sekali-kali tidak akan sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai"), dan sesungguhnya harta yang paling aku cintai adalah Bairuha' itu dan sekarang dia menjadi shadaqah di jalan Allah dan aku berharap kebaikannya dan sebagai simpanan pahala di sisi-Nya, maka ambillah wahai Rasulullah sebagaimana petunjuk Allah kepada Tuan". Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Wah, inilah harta yang menguntungkan, atau harta yang pahalanya mengalir terus. Pada kalimat ini Abu Salamah ragu. Sungguh aku sudah mendengar apa yang kamu katakan dan aku berpendapat sebaiknya kamu shadaqahkan buat kerabatmu". Maka Abu Thalhah berkata: "Aku akan laksanakan wahai Rosululloloh". Lalu Abu Thalhah membagikannya untuk kerabatnya dan anak-anak pamannya". Dan berkata [Isma'il] dan ['Abdullah bin Yusuf] dan [Yahya bin Yahya] dari [Malik]: "(Inilah harta yang pahalanya) mengalir terus".
Telah menceritakan kepada kami [Isma'il] telah menceritakan kepada kami [Ibnu 'Aun] dari [Nafi'] dari [Ibnu Umar] ia berkata, "Umar pernah memperoleh sebidang tanah di Khaibar, lalu ia menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan meminta petunjuk dari beliau dalam mengurusnya seraya berkata, "Di Khaibar aku memiliki sebidang tanah namun aku belum pernah memperoleh satu harta yang lebih aku cintai dari padanya, apa yang engkau perintahkan kepadaku? Beliau menjawab: "Jika mau engkau boleh menahan dan mensedekahkannya." Ibnu Umar melanjutkan, "Umar lalu mensedekahkan kebun tersebut untuk tidak menjualnya, tidak dihadiahkan dan tidak diwariskan." Ibnu Umar melanjutkan, "Umar pun mensedekahkannya kepada orang-orang fakir, para kerabat, hamba sahaya, fi sabilillah, Ibnu Sabil dan orang yang bertamu. Dan tidak berdosa orang yang merawatnya untuk memakannya dengan cara yang baik atau memberi makan kepada temannya dengan tidak menimbunnya."
Telah bercerita kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah bercerita kepada kami [Muhammad bin 'Abdullah Al Anshariy] telah bercerita kepada kami [Ibnu 'Aun] berkata [Nafi'] memberitakan kepadaku dari [Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma] bahwa 'Umar bin Al Khaththab radliallahu 'anhu mendapat bagian lahan di Khaibar lalu dia menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk meminta pendapat Beliau tentang tanah lahan tersebut dengan berkata: "Wahai Rasulullah, aku mendapatkan lahan di Khaibar dimana aku tidak pernah mendapatkan harta yang lebih bernilai selain itu. Maka apa yang Tuan perintahkan tentang tanah tersebut?" Maka Beliau berkata: "Jika kamu mau, kamu tahan (pelihara) pepohonannya lalu kamu dapat bershadaqah dengan (hasil buah) nya". Ibnu 'Umar radliallahu 'anhu berkata: "Maka 'Umar menshadaqahkannya dimana tidak dijualnya, tidak dihibahkan dan juga tidak diwariskan namun dia menshadaqahkannya untuk para faqir, kerabat, untuk membebaskan budak, fii sabilillah, ibnu sabil dan untuk menjamu tamu. Dan tidak dosa bagi orang yang mengurusnya untuk memakan darinya dengan cara yang ma'ruf (benar) dan untuk memberi makan orang lain bukan bermaksud menimbunnya. Perawi berkata; "Kemudian aku ceritakan hadits ini kepada Ibnu Sirin maka dia berkata: "ghoiru muta'atstsal maalan artinya tidak mengambil harta anak yatim untuk menggabungkannya dengan hartanya"
Telah bercerita kepada kami [Musaddad] telah bercerita kepada kami [Yazid bin Zurai'] telah bercerita kepada kami [Ibnu 'Aun] dari [Nafi'] dari [Ibnu 'Umar radliallahu 'anhuma] berkata; 'Umar mendapatkan harta berupa tanah di Khaibar lalu dia menemui Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata: "Aku mendapatkan harta dan belum pernah aku mendapatkan harta yang lebih berharga darinya. Bagaimana Tuan memerintahkan aku tentangnya?" Beliau bersabda: "Jika kamu mau, kamu pelihara pohon-pohoinnya lalu kamu shadaqahkan (hasil) nya". Maka 'Umar menshadaqahkannya, dimana tidak dijual pepohonannya tidak juga dihibahkannya dan juga tidak diwariskannya, (namun dia menshadaqahkan hartanya itu) untuk para fakir, kerabat,. untuk membebaskan budak, fii sabilillah (di jalan Allah), untuk menjamu tamu dan ibnu sabil. Dan tidak dosa bagi orang yang mengurusnya untuk memakan darinya dengan cara yang ma'ruf (benar) dan untuk memberi makan teman-temannya asal bukan untuk maksud menimbunnya.
Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya At Tamimi] telah mengabarkan kepada kami [Sulaim bin Ahdlar] dari [Ibnu 'Aun] dari [Nafi'] dari [Ibnu Umar] dia berkata, "Umar mendapatkan bagian tanah perkebunan di Khaibar, lalu dia datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan meminta saran mengenai bagian tersebut, dia berkata, "Wahai Rasulullah, saya mendapat bagian tanah perkebunan di Khaibar, dan saya belum pernah mendapatkan harta yang sangat saya banggakan seperti kebun itu, maka apa yang anda perintahkan mengenai kebun tersebut?" beliau menjawab: "Jika kamu mau, peliharalah pohonnya dan sedekahkanlah hasilnya." Ibnu Umar berkata, "Kemudian Umar mensedekahkannya, tidak dijual pohonnya dan hasilnya, tidak diwariskan dan tidak dihibahkan." Ibnu Umar melanjutkan, "Umar menyedekahkan hasilnya kepada orang-orang fakir, karib kerabat, pemerdekaan budak, dana perjuangan di jalan Allah, untuk pejuang-pejuang dan untuk menjamu tamu. Dan dia juga membolehkan orang lain untuk mengolah kebun tersebut dan memakan dari hasil tanamannya dengan sepantasnya, atau memberi makan temannya dengan tidak menyimpannya." Ibnu Umar berkata lagi, "Dan saya telah menceritakan hadis ini kepada Muhammad, ketika saya sampai kepada perkataan; 'Dan tidak menyimpannya', maka Muhammad mengatakan, "Dan tidak mengumpul-ngumpulkan hartanya." [Ibnu 'Aun] berkata, "Dan telah memberitakan kepadaku orang yang telah membaca kitab ini, bahwa di dalamnya tertulis, 'Dan tidak mengumpul-ngumpulkan hartanya.' Dan telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Zaidah]. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami [Ishaq] telah mengabarkan kepada kami [Azhar As Saman]. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu 'Adi] semuanya dari [Ibnu 'Aun] dengan sanad-sanad ini, hanya saja hadis Ibnu Abu Zaidah dan Azhar selesai pada lafadz, 'atau memberi makan kepada temannya tanpa menyimpannya', dan tidak disebutkan sesuatu setelahnya. Sedangkan hadis Ibnu Abu 'Adi, di dalamnya seperti yang disebutkan oleh Sulaim, yaitu perkataanya (Ibnu Umar), 'Kemudian hadis ini saya sampaikan kepada Muhammad' dan seterusnya." Dan telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] telah menceritakan kepada kami [Abu Daud Al Hafari Umar bin Sa'd] dari [Sufyan] dari [Ibnu 'Aun] dari [Nafi'] dari [Ibnu Umar] dari [Umar] dia berkata, "Saya mendapatkan bagian tanah perkebunan di Khaibar, lantas saya menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata, "Saya telah mendapatkan tanah perkebunan, dan tidak ada yang lebih saya sukai selain tanah tersebut….kemudian dia melanjutkan hadis sebagaimana hadis mereka semua, namun dia tidak menyebutkan 'Kemudian saya menyampaikan hadis ini kepada Muhammad', dan juga setelahnya."
Telah menceritakan kepada kami [Musaddad], telah menceritakan kepada kami [Yazid? bin Zurai'], dan telah diriwayatkan dari jalur yang lain: dan telah mencerityakan kepada kami [Musaddad] telah menceritakan kepada kami [Bisyr bin Al Mufadhdhal], dan telah diriwayatkan dari jalur yang lain: Telah menceritakan kepada kami [Musaddad], telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Ibnu 'Aun], dari [Nafi'] dari [Ibnu Umar], ia berkata; Umar mendapatkan tanah Khaibar, kemudian ia datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata; aku telah mendapatkan tanah dan belum pernah mendapatkan harta yang lebih berharga menurutku daripadanya. Apakah yang anda perintahkan kepadaku? Beliau berkata: "Apabila engkau mau, maka engkau tahan pokoknya dan bersedekah dengannya." Kemudian Umar bersedekah dengannya, dengan syarat bahwa pokoknya tidka dijual, dan tidak diberikan, serta tidak diwariskan untuk orang-orang faqir, para kaum kerabat, serta para budak. Dan dengan syarat di jalan Allah, serta ibnu Sabil. Dan ia menambahkan dari Bisyr; serta tamu. Kemudian lafazh mereka sama: "Tidak mengapa bagi orang yang mengurusnya untuk memakan sebagian darinya dengan cara yang baik. Memberi makan teman, tanpa mengembangkannya." Dan Muhammad mengatakan; tidak mengumpulkan dan menjadikannya harta pokok. Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Daud Al Mahri], telah menceritakan kepada kami [Ibnu Wahb], telah mengabarkan kepadaku [Al Laits], dari [Yahya bin Sa'id] mengenai sedekah Umar bin Al Khathab radliallahu 'anhu, ia berkata; [Abdul Hamid bin Abdullah bin Umar bin Al Khathab] menyalinnya untukku; bismillahirrahmanirrahim, ini adalah yang ditulis hamba Allah [Umar] apabila terjadi sesuatu padanya, bahwa Tsamgh, dan Shirmah bin Al Akwa' (dua harta milik Umar di Madinah) serta budak yang ada padanya, dan seratus saham yang ada di Khaibar, budak yang ada padanya, serta seratus (wasaq) yang telah Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam berikan kepadanya di sebuah bukit akan diurus oleh Hafshah selama ia masih hidup, kemudian orang-orang yang memiliki pemikiran yang baik dari kalangan keluarganya. Tidak boleh dijual, dan tidak boleh dibeli, ia nafkahkan ke tempat yang ia pandang baik, kepada orang yang meminta, dan orang miskin yang tidak mendapat bagian, para kaum kerabat, dan tidak mengapa orang yang mengurusnya untuk makan atau memberi makan, atau membeli budak darinya.
Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Abdurrahman] telah mengabarkan kepada kami [Abdullah bin Ja'far Ar raqqi] telah menceritakan kepada kami ['Ubaidullah bin 'Amru] dari [Zaid yaitu Ibnu Abu Unaisah] dari [Abu Ishaq] dari [Abu Abdurrahman As Sulami] dia berkata; Ketika [Utsman] terkepung, maka ia menampakkan diri di hadapan mereka sambil berseru; "Aku mengingatkan kalian dengan nama Allah, bukankah kalian mengetahui peristiwa ketika goa Hira` berguncang, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tenanglah wahai Hira` sesungguhnya tidak ada yang berada di atasmu kecuali seorang nabi atau shiddiq atau dua orang syahid." Mereka menjawab; "Ya." Kemudian utsman berkata lagi; "aku mengingatkan kalian dengan nama Allah, bukankah kalian juga mengetahui sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terhadap pasukan Al 'Usrah (pasukan perang Tabuk): "siapa yang ingin berinfaq untuk (perang) besok?" sedangkan (waktu) itu orang-orang baru ditimpa kesusahan dan sesengsaraan, maka aku mempersiapkan perbekalan untuk pasukan tersebut?" mereka menjawab; "Ya." Kemudian Utsman bertanya lagi; "aku mengingatkan kalian dengan nama Allah, bukankah kalian mengetahui sumur Ruumah (nama sumur yang airnya banyak) yang tidak ada seorang pun dapat minum darinya kecuali dengan membelinya dengan harga yang mahal, kemudian aku membelinya, lalu aku berikan baik kepada orang yang kaya dan faqir serta Ibnu Sabil? Mereka menjawab; "Demi Allah, ya." Dan beberapa (kemuliaan) yang ia hitung (sebutkan)." Abu Isa berkata; "Hadits ini derajatnya hasan shahih gharib melalui jalur ini, yaitu dari hadits Abu Abdurrahman As Sulami dari Utsman."
Telah menceritakan kepada kami [Bahz] Telah menceritakan kepada kami [Abu 'Awanah] Telah menceritakan kepada kami [Hushain] dari ['Amru Bin Jawan] dia berkata; [Al Ahnaf] berkata; kami pergi melaksanakan haji dan melewati Madinah, ketika kami berada di rumah kami, tiba tiba datanglah seseorang lalu mengatakan bahwa orang-orang yang ada di masjid ketakutan, maka aku dan sahabatku pergi (menuju ke arahnya) dan ternyata orang-orang sedang berkumpul mengerumuni seseorang di masjid, kemudian aku menorobos mereka sehingga aku berdiri di hadapan mereka, dan ternyata di sana ada [Ali Bin Abu Thalib], [Zubair], [Thalhah] dan [Sa'd Bin Abi Waqash], tidak lama kemudian muncullah [Utsman] datang dengan berjalan, lalu dia bertanya; "Apakah di sini ada Ali?" Orang-orang menjawab; "Ya." Dia bertanya lagi; "Apakah di sini ada Zubair?" Mereka menjawab; "Ya." Lalu dia bertanya lagi; "Apakah di sini ada Thalhah?" Mereka menjawab; "Ya." Dia bertanya lagi; "Apakah di sini ada Sa'd?" Mereka menjawab; "Ya." Kemudian dia berkata; "Aku bersumpah kepada Allah yang tidak ada ilah kecuali Dia, tahukah kalian bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Siapakah yang mau membeli mirbad (tempat berkumpulnya unta) milik bani Fulan, niscaya Allah akan mengampuninya, " maka aku membelinya, kemudian aku datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan aku katakan bahwa aku telah membelinya, maka beliau berkata; "Jadikan tempat itu milik masjid kita sedangkan pahalanya untukmu, " para sahabat menjawab; "Ya." Kemudian Utsman berkata; "Aku bersumpah kepada Allah yang tidak ada ilah kecuali Dia, tahukah kalian bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: "Siapakah yang mau membeli sumur Rumah?" Kemudian aku membelinya dengan harga segini dan segini, lalu aku datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan aku katakan bahwa aku telah membelinya (yaitu sumur Rumah), kemudian beliau bersabda; "Jadikan dia sebagai sumber air minum milik kaum muslimin sedangkan pahalanya untukmu." Para sahabat menjawab; "Ya" dia (Utsman) berkata lagi; "Aku bersumpah kepada Allah yang tidak ada ilah kecuali Dia, tahukah kalian bahwa pada hari perang Jaisyul Usrah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melihat ke arah wajah orang-orang (mencari), kemudian beliau bertanya; "Siapa yang dapat menyiapkan (keperluan perang) untuk mereka, niscaya Allah akan mengampuninya." Lalu aku menyiapkan untuk mereka, sampai sampai sabuk dan talipun tidak terluputkan dari mereka." Kemudian para sahabat menjawab; "Demi Allah ya." Lalu dia berkata; "Ya Allah saksikanlah, ya Allah saksikanlah, ya Allah saksikanlah." Kemudian dia pergi.
Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Abdurrahman] dan [Abbas bin Muhammad Ad Duuri] dan yang lainnya, namun maknanya satu, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin 'Amir], [Abdullah] berkata; telah mengkhabarkan kepada kami [Sa'id bin 'Amir] dari [Yahya bin Abu Al Hajjaj Al Manqari] dari [Abu Mas'ud Al Jurairi] dari [Tsumamah bin Hazn Al Qusyairi] dia berkata; saya menyaksikan rumah [Utsman] ketika Utsman menampakkan diri kepada mereka kemudian berkata; datangkanlah kepadaku dua tokoh kalian yang memiliki maksud terhadapku." Tsumamah berkata; "lantas mereka mendatangkan keduanya, dan kedua orang itu seperti dua ekor unta atau dua ekor keledai." Tsumamah melanjutkan; "lalu Utsman menampakkan diri kepada mereka dan berkata; saya bertanya kepada kalian dan bersumpah dengan nama Allah dan Islam, apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang ke Madinah dan tidak ada padanya air segar selain sumur Ruumah (nama sumur di Madinah), kemudian beliau bersabda: "Barang siapa yang membeli sumur Rumah kemudian menjadikan embernya sama dengan ember orang-orang muslim, oleh kebaikannya itu maka ia akan berada dalam Surga." Lalu saya membelinya dari hartaku secara murni, namun sekatang kalian melarangku minum darinya hingga saya minum dari air laut? Mereka mengatakan; "Ya Allah, benar." saya bertanya kepada kalian dan bersumpah dengan nama Allah dan Islam, apakah kalian mengetahui bahwa masjid telah sesak dengan penghuninya kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapakah yang membeli lahan keluarga Fulan kemudian menambahkannya di masjid, dengan kebaikannya itu maka ia masuk Syurga?." Lalu saya membelinya dari hartaku secara murni namun hari ini kalian melarangku untuk melakukan shalat dua rekaat di dalamnya? Mereka mengatakan; ya Allah, benar." Utsman berkata; "Saya bertanya kepada kalian dan bersumpah dengan nama Allah dan Islam, apakah kalian mengetahui bahwa saya telah mempersiapkan pasukan Al 'Usrah (pasukan perang Tabuk) dari hartaku? Mereka berkata; ya Allah, benar. Kemudian Utsman melanjutkan; saya bertanya kepada kalian dan bersumpah dengan nama Allah dan Islam, apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah berada di atas Tsabir Makkah dan bersamanya Abu Bakr, Umar dan saya. Kemudian gunung itu bergerak hingga bebatuannya terjatuh ke bawah, kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjejakkan kakinya sambil bersabda: "Diamlah Tsabir, sesungguhnya di atasmu terdapat seorang Nabi, shiddiq, dan dua orang syahid." Mereka menjawab; "Ya Allah, benar." Utsman berkata; Allahu akbar, demi Rabb pemilik Ka'bah mereka telah bersaksi bahwa saya adalah seorang syahid." Dia mengucapkannya hingga tiga kali. Abu Isa mengatakan; "Hadits ini adalah hadits hasan, dan telah diriwayatkan dari beberapa jalur dari Utsman."
Telah mengkhabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim], ia berkata; telah menceritakan kepada kami [Abdulah bin Idris], ia berkata; saya mendengar [Hushain bin Abdur Rahman] menceritakan dari ['Amr bin Jawan] dari [Al Ahnaf bin Qais], ia berkata; kami pernah keluar untuk melakukan haji, lalu kami datang ke Madinah dan kami ingin melakukan haji. Ketika kami berada di rumah kami dan menambatkan kendaraan kami, tiba-tiba datang seseorang kepada kami seraya berkata; sesungguhnya orang-orang telah berkumpul di Masjid dan mereka merasa kaget. Maka kami berangkat ke masjid, ternyata orang-orang sedang berkumpul mengelilingi beberapa orang di tengah masjid, dan diantara mereka terdapat [Ali], [Az Zubair] serta [Thalhah], dan [Sa'd bin Abi Waqqash]. Disaat kami dalam keadaan demikian, tiba-tiba [Utsman] radliallahu 'anhu datang memakai baju kurung kuning, dan menutup kepalanya dengan baju tersebut, seraya berkata; apakah di sini terdapat Thalhah? Apakah di sini terdapat Az Zubair? Apakah di sini terdapat Sa'd? mereka berkata; ya. Utsman berkata; sungguh saya bertanya kepada kalian dan bersumpah dengan nama Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: "Barang siapa yang membeli tempat penambatan unta milik Bani Fulan, maka Allah akan mengampuninya." Maka saya membelinya dengan harga dua puluh ribu atau dua puluh lima ribu, kemudian saya datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan mengkhabarkan kepadanya. Lalu beliau bersabda: "Jadikanlah berada di masjid kita, dan pahalanya untukmu." Mereka mengatakan; ya. Utsman berkata; saya bertanya dan bersumpah dengan nama Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: "Barang siapa yang membeli sumur Rumah, maka Allah akan mengampuninya." Maka saya membelinya dengan harga sekian dan sekian, kemudian saya datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan mengatakan; saya telah membelinya dengan harga sekian dan sekian. Lalu beliau bersabda: "Jadikanlah untuk memberi minum orang-orang muslim dan pahalanya untukmu." Mereka mengatakan; ya. Utsman berkata; saya bertanya dan bersumpah dengan nama Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah melihat ke wajah beberapa orang lalu bersabda: "Barang siapa yang mempersiapkan mereka, maka Allah akan mengampuninya." Yaitu pasukan Al 'Usrah, maka saya mempersiapkan mereka hingga mereka tidak kehilangan satu tali unta dan satu tali kendalipun. Maka mereka berkata; ya. Utsman berkata; ya Allah saksikanlah, ya Allah saksikanlah, ya Allah saksikanlah.
Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Ibrahim] berkata; telah memberitakan kepada kami [Al Mu'tamir bin Sulaiman] berkata; aku mendengar [ayahku] menceritakan dari [Hushain bin 'Abdurrahman] dari [Umar bin Jawan] seorang laki-laki dari Bani Tamim, aku berkata kepadanya, "Bagaimana pendapatmu mengenai sebab [Al Ahnaf] menyingkir dari apa yang telah terjadi?" Ia menjawab, "Aku mendengar Al Ahnaf berkata, 'Aku datang ke Madinah dan aku sedang melakukan haji, ketika kami berada di rumah kami dan menambatkan kendaraan kami, tiba-tiba datang seseorang kepada kami seraya berkata, 'Sesungguhnya orang-orang telah berkumpul di Masjid! ' Kemudian aku lihat ternyata orang-orang sedang berkumpul, dan ternyata di antara orang-orang yang duduk itu ada [Ali bin Abu Thalib], [Az Zubair], [Thalhah] dan [Sa'd bin Abu Waqqash], semoga rahmat Allah terlimpahkan kepada mereka. Saat aku berdiri menuju mereka, maka dikatakan, 'Ini [Utsman bin Affan] telah tiba'." Al Ahnaf berkata, "Ia datang memakai baju kurung kuning. Kemudian aku katakan kepada sahabatku, 'Tetaplah di tempatmu hingga aku melihat apa yang ia bawa.' Kemudian Utsman berkata, "Apakah di sini ada Ali? Apakah di sini ada Az Zubair? Apakah di sini ada Thalhah? Apakah di sini ada Sa'd?" Mereka menjawab, 'Ya." Utsman lalu berkata, "Sungguh, aku bertanya kepada kalian dan bersumpah dengan nama Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: "Barangsiapa membeli tempat penambatan unta milik Bani Fulan, maka Allah akan mengampuninya." Maka aku membelinya kemudian datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata kepadanya, "Sesungguhnya aku telah membeli tempat penambatan unta milik Bani Fulan. Lalu beliau bersabda: "Jadikanlah berada di masjid kita, dan pahalanya untukmu." Mereka mengatakan, "Ya." Utsman berkata, "Aku bertanya dan bersumpah dengan nama Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: "Barangsiapa membeli sumur Rumah, maka Allah akan mengampuninya." Kemudian aku datang kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan mengatakan, "Aku telah membelinya." Lalu beliau bersabda: "Jadikanlah untuk memberi minum orang-orang muslim dan pahalanya untukmu." Mereka mengatakan, "Ya." Utsman berkata lagi, "Aku bertanya dan bersumpah dengan nama Allah yang tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia. Apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda: "Barangsiapa mempersiapkan pasukan Al 'Usrah maka Allah akan mengampuninya." Maka aku mempersiapkan mereka hingga mereka tidak kehilangan satu tali unta dan satu tali kendali pun." Maka mereka menjawab, "Ya." Utsman lalu berkata, "Ya Allah, saksikanlah. Ya Allah saksikanlah. Ya Allah saksikanlah."
Telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman] dari [Malik] dari [Zaid Bin Aslam] dari [bapaknya] dari [Umar Bin Al Khaththab], dia berkata; aku pernah menggunakan seekor kuda untuk (berjihad) di jalan Allah, kemudian pemilik kuda tersebut menelantarkannya, maka aku ingin membeli kuda tersebut, dan aku mengira dia akan menjualnya dengan harga yang murah, aku berkata; "Tunggu sampai aku bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, " maka beliau bersabda: "Jangan membelinya sekalipun dia memberikan dirham kepadamu, karena perumpamaan orang yang mengambil kembali sedekah (pemberiannya) adalah seperti seekor anjing yang menelan kembali muntahnya."
Telah menceritakan kepada kami [Waki'] Telah menceritakan kepada kami [Hisyam Bin Sa'd] dari [Zaid Bin Aslam] dari [bapaknya] dari [Umar], dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Perumpamaan orang yang menarik kembali sedekahnya adalah seperti orang yang menelan kembali muntahnya."
Telah menceritakan kepada kami [Isma'il] telah mengabarkan kepada kami [Ayyub] dari ['Ikrimah] dari [Ibnu Abbas], bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Kami tidak mempunyai permisalan yang lebih jelek bagi orang yang menarik kembali pemberiannya sebagaimana anjing yang menjilat kembali muntahnya."
Telah menceritakan kepada kami [Bahz] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] telah mengabarkan kepadaku [Qatadah] berkata; aku mendengar [Sa'id bin Al Musayyab] menceritakan; bahwa dia mendengar [Ibnu Abbas] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Orang yang mengambil kembali pemberiannya adalah seperti orang yang menjilat kembali muntahannya."
Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Abdul Malik] telah menceritakan kepada kami [Musa bin A'yan] telah menceritakan kepada kami ['Amru bin Al Harits] dari [Bukair bin Abdullah] dari [Sa'id bin Al Musayyab] berkata; aku mendengar [Ibnu Abbas] berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya perumpamaan orang yang bersedekah lalu mengambil kembali sedekahnya adalah seperti orang muntah lalu memakan kembali muntahannya."
Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] telah menceritakan kepada kami [Abu Az Zanad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu]; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam berkata,: "Ada seorang laki-laki berkata,: Aku pasti akan bershadaqah. Lalu dia keluar dengan membawa shadaqahnya dan ternyata jatuh ke tangan seorang pencuri. Keesokan paginya orang-orang ramai membicarakan bahwa dia telah memberikan shadaqahnya kepada seorang pencuri. Mendengar hal itu orang itu berkata,: "Ya Allah segala puji bagiMu, aku pasti akan bershadaqah lagi". Kemudian dia keluar dengan membawa shadaqahnya lalu ternyata jatuh ke tangan seorang pezina. Keesokan paginya orang-orang ramai membicarakan bahwa dia tadi malam memberikan shadaqahnya kepada seorang pezina. Maka orang itu berkata, lagi: Ya Allah segala puji bagiMu, (ternyata shadaqahku jatuh) kepada seorang pezina, aku pasti akan bershadaqah lagi. Kemudian dia keluar lagi dengan membawa shadaqahnya lalu ternyata jatuh ke tangan seorang yang kaya. Keesokan paginya orang-orang kembali ramai membicarakan bahwa dia memberikan shadaqahnya kepada seorang yang kaya. Maka orang itu berkata,: Ya Allah segala puji bagiMu, (ternyata shadaqahku jatuh) kepada seorang pencuri, pezina, dan orang kaya. Setelah itu orang tadi bermimpi dan dikatakan padanya: "Adapun shadaqah kamu kepada pencuri, mudah-mudahan dapat mencegah si pencuri dari perbuatannya, sedangkan shadaqah kamu kepada pezina, mudah-mudahan dapat mencegahnya berbuat zina kembali dan shadaqah kamu kepada orang yang kaya mudah-mudahan dapat memberikan pelajaran baginya agar menginfaqkan harta yang diberikan Allah kepadanya".
Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Yusuf] dari [Sufyan] dari [Abu 'Ajlan] dari [Al Qa'qa' bin Hakim] ia berkata, "Abdul Aziz bin Marwan menulis surat kepada Ibnu Umar 'Sampaikanlah keperluanmu kepadaku'." Al Qa'qa' melanjutkan perkataannya, " [Ibnu Umar] lalu menulis balasan kepadanya, 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sungguh, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, dan mulailah dengan orang kamu nafkahi'. Aku tidak meminta sesuatu darimu, namun aku tidak menolak rezeki yang Allah berikan melalui tanganmu."
Telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Mas'adah] dari [Ibnu Ajlan] dan [Shafwan] dia berkata, telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Ajlan Al Ma'na] dan [Al Qa'qa' bin Hakim] bahwa Abdul Aziz bin Marwan menulis kepada Abdullah bin Umar; "Ungkapkanlah hajatmu kepadaku." (Qa'qa' bin Hakim) berkata; maka [Abdullah bin Umar] pun menulis kepadanya, saya mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Mulakanlah sedekahmu dari kerabat yang menjadi tanggunganmu. Dan tangan yang di atas adalah lebih baik dari tangan yang di bawah." Dan sungguh, saya mempunyai taksiran bahwa tangan yang di atas adalah tangan yang memberi, sedang tangan yang dibawah tangan peminta-minta. Dan saya tidak meminta kepadamu sesuatu pun, tidak pula menolak rezeki yang Allah berikan kepadaku melalui perantaraanmu.
Telah menceritakan kepada kami [Ya'la bin 'Ubaid] telah menceritakan kepada kami [Abdul Malik] dari ['Atho`] dari [Abu Hurairah], dia berkata; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Tidak ada sedekah kecuali dari orang yang mampu, dan tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah, dan mulailah dari orang yang kamu nafkahi."
Telah menceritakan kepada kami [Abdurrazzaq] telah menceritakan kepada kami [Ma'mar] dari [Ayub] dari [Ibnu Sirin] dari [Abu Hurairah] berkata; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Sebaik-baik sedekah adalah dari kelebihan harta, dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu, dan tangan di atas itu lebih baik dari tangan di bawah." Aku bertanya kepada Ayub, "Apa yang dimaksud dengan kelebihan harta?" Dia berkata; "Dari kelebihan hartamu."
Telah menceritakan kepada kami [Zaid bin Al Hubab] telah menceritakan kepadaku [Husain bin Waqid] berkata; telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin Ziyad] bahwa [Abu Hurairah] menceritakan kepadanya, ia berkata; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Tangan di atas itu lebih baik dari tangan yang di bawah, dan mulailah dari orang-orang yang ada dalam tanggunganmu."
Telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Sufyan] dari [Muzahim bin Zufar] dari [Mujahid] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, -yang aku ketahui bahwa Yahya (perawi) masih merasa ragu, - beliau bersabda: "Satu dinar yang engkau infaqkan di jalan Allah 'azza wajalla, satu dinar kepada orang-orang miskin, satu dinar kepada budak serta satu dinar kepada keluargamu, maka yang paling besar pahalanya adalah dinar yang engkau infaqkan kepada keluargamu."
Telah menceritakan kepada kami [Waki'] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Muzahim bin Zufar] dari [Mujahid] dari [Abu Hurairah], berkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dinar yang engkau infaqkan di jalan Allah, dan dinar yang engkau infaqkan kepada pembantu, dan dinar yang engkau sedekahkan, dinar yang engkau infaqkan kepada keluargamu, maka yang lebih utama adalah dinar yang engkau infaqkan kepada keluargamu."
Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abi Syaibah] dan [Zuhair bin Harb] dan [Abu Kuraib] -dan lafazh milik Abu Kuraib- mereka berkata, Telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Sufyan] dari [Muzahim bin Zufar] dari [Mujahid] dari [Abu Hurairah] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dinar (harta) yang kamu belanjakan di jalan Allah dan dinar (harta) yang kamu berikan kepada seorang budak wanita, dan dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin serta dinar yang kamu nafkahkan kepada keluargamu. Maka yang paling besar ganjaran pahalanya adalah yang kamu nafkahkan kepada keluargamu."
Telah menceritakan kepada kami [Isma'il] telah bercerita kepada kami [Ayyub] dari [Abu Qilabah] dari [seseorang] yang telah bercerita padanya dari [Tsauban] berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda; "Dinar paling utama adalah dinar yang dinafkahkah seseorang untuk tanggungannya, kendaraannya dijalan Allah atau sahabat-sahabatnya dijalan Allah."
Telah menceritakan kepada kami ['Abdur Rahman bin Mahdi] telah bercerita kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Ayyub] dari [Abu Qilabah] dari [Abu Asma`] dari [Tsauban] berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda; "Dinar terbaik adalah yang dinafkahkan seseorang kepada orang-orang yang menjadi tanggungannya, kemudian untuk dirinya, kemudian untuk sabilillah, kemudian untuk sahabat-sahabatnya di jalan Allah." Berkata Abu Qilabah; diawal-mulai dari orang-orang yang menjadi tanggungannya. Berkata Sulaiman bin Harb dan ia tidak memarfu'kannya; Dinar yang dibelanjakan seseorang untuk kendaraannya dijalan Allah.
Telah menceritakan kepada kami ['Affan] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] ia mengimlakkan pada kami; Telah menceritakan kepada kami [Ayyub] dari [Abu Qilabah] dari [Abu Asma`] dari [Tsauban], bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiWasallam bersabda; "Dinar terbaik adalah dinar yang dinafkahkan seseorang untuk orang-orang yang menjadi tanggungannya, dinar yang dinafkahkan untuk kendaraannya dijalan Allah." Abu Qilabah berkata; Berbuat baik terhadap orang-orang yang menjadi tanggungannya. Perawi berkata; Siapa yang lebih besar pahalanya dari orang yang memberi nafkah untuk anak-anak kecil yang menjadi tanggungannya yang dengannya Allah menjaga mereka (dari perbuatan dosa dan sifat-sifat tercela)."
Telah menceritakan kepada kami [Abu Rabi' Az Zahrani] dan [Qutaibah bin Sa'id] keduanya dari [Hammad bin Zaid] - [Abu Rabi'] berkata- Telah menceritakan kepada kami [Hammad] Telah menceritakan kepada kami [Ayyub] dari [Abu Qilabah] dari [Abu Asma`] dari [Tsauban] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sebaik-baik dinar (uang atau harta) yang dinafkahkan seseorang, ialah yang dinafkahkan untuk keluarganya, untuk ternak yang depeliharanya, untuk kepentingan membela agama Allah, dan nafkah untuk para sahabatnya yang berperang di jalan Allah." Abu Qilabah berkata; Beliau memulainya dengan keluarga." Kemudian Abu Qilabah berkata; Dan laki-laki manakah yang lebih besar pahalanya dari seorang laki-laki yang berinfak kepada keluarga kecil, memuliakan mereka yang dengannya Allah memberikan manfaat dan memberikan kecukupan bagi mereka?"
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah], telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Ayyub] dari [Abu Qilabah] dari [Abu Asma`] dari [Tsauban] bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Dinar yang paling utama adalah Dinar yang diinfakkan seseorang untuk keluarganya, Dinar yang dibelanjakan seseorang untuk kendaraannya di jalan Allah, dan Dinar yang dibelanjakan oleh seseorang untuk para sahabatnya di jalan Allah." Abu Qilabah berkata; Beliau memulai dengan keluarga. Kemudian beliau berkata: "Lalu siapakah yang lebih besar (pahalanya) daripada seorang yang membelanjakan hartanya untuk keluarganya, dimana dengannya Allah memuliakan mereka dan memberi mereka kecukupan?" Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan shahih.
Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Az Zuhri] dari [Salim] dari [Ayahnya] ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak boleh dengki kecuali pada dua hal; Seseorang yang dianugerahi Al-Qur'an oleh Allah, lalu ia membacanya sepanjang siang dan malam. Dan seseorang yang dianugerahi harta oleh Allah, lalu ia mensedekahkannya di jalan yang benar malam dan siang hari."
Telah menceritakan kepada kami [Abdurrazaq] telah menceritakan kepada kami [Ma'mar] dari [Az Zuhri] dari [Salim] dari [Ibnu Umar] ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak boleh hasad kecuali kepada dua orang; orang yang diberikan Al-Qur'an oleh Allah lalu ia membacanya sepanjang siang dan malam, dan orang yang diberikan harta oleh Allah lalu ia menginfakkannya siang dan malam."
Telah menceritakan kepada kami [Abdurrazzaq] telah menceritakan kepada kami [Ma'mar] dari [Zuhri] dari [Salim] dari [bapaknya], Nabi Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Tidak (diperbolehkan) hasad kecuali dalam dua hal, yaitu seseorang yang diberikan harta oleh Allah kemudian ia pergunakan untuk berinfaq malam dan siang hari, dan seseorang yang diberi Al Quran oleh Allah kemudian dia pergunakan untuk shalat malam dan siang hari."
Telah menceritakan kepada kami [Usman bin Umar] telah mengabarkan kepada kami [Yunus] dari [Zuhri] dari [Salim bin Abdillah] dari [Ibnu Umar], Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Tidak diperbolehkan hasad kecuali pada dua hal. Yaitu seorang laki-laki yang telah Allah beri alquran, lalu ia pergunakan untuk shalat di pertengahan malam dan siang hari. Kemudian seseorang yang Allah beri harta, lalu ia menginfakkannya pada malam dan siang hari."
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] dan [Rauh] secara makna, mereka berkata; telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Sulaiman] dari [Dzakwan] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwasanya beliau shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada hasad (iri) kecuali pada dua hal; seseorang yang dikaruniai Allah mampu menghapal Al quran kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, lalu seseorang yang lain mendengarnya seraya berkata; 'Duhai sekiranya aku diberi seperti apa yang diberikan kepadanya, maka aku akan melakukan seperti apa yang ia lakukan.' Dan Seorang lelaki yang Allah berikan harta kepadanya kemudian ia habiskan di jalan kebajikan, lalu seseorang berkata; 'Duhai sekiranya aku diberi seperti apa yang diberikan kepadanya, maka aku melakukan seperti apa yang ia lakukan.'" Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Adam] telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Abdul 'Aziz] dari [Al A'masy] dari [Abu Shalih] dari [Abu Sa'id], dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada hasad kecuali pada dua hal…, " lalu ia menyebutkan persis sebagaimana redaksi hadis diatas."
Telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Yusuf] dari [Sufyan] dari [Abu 'Ajlan] dari [Al Qa'qa' bin Hakim] ia berkata, "Abdul Aziz bin Marwan menulis surat kepada Ibnu Umar 'Sampaikanlah keperluanmu kepadaku'." Al Qa'qa' melanjutkan perkataannya, " [Ibnu Umar] lalu menulis balasan kepadanya, 'Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sungguh, tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah, dan mulailah dengan orang kamu nafkahi'. Aku tidak meminta sesuatu darimu, namun aku tidak menolak rezeki yang Allah berikan melalui tanganmu."
Telah menceritakan kepada kami ['Attab] telah menceritakan kepada kami [Abdullah] telah mengabarkan kepada kami [Musa bin 'Uqbah] dari [Nafi'] dari [Ibnu Umar] ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah, tangan di atas adalah pemberi dan tangan di bahwa adalah peminta."
Telah menceritakan kepada kami [Yunus] telah menceritakan kepada kami [Hammad yakni Ibnu Zaid] telah menceritakan kepada kami [Ayub] dari [Nafi'] dari [Abdullah bin Umar] bahwa sesungguhnya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda dan beliau sedang berkhutbah: "Tangan diatas lebih baik daripada tangan yang dibawah. Tangan yang di atas adalah pemberi sedangkan tangan yang di bawah adalah tangan peminta-minta."
Telah menceritakan kepada kami [Hasyim] telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin Sa'id bin Amr bin Sa'id bin 'Ash] dari bapaknya [Sa'id bin Amr] dari [Ibnu Umar] dia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah." Ibnu Umar berkata, "Maka saya tidak pernah meminta Umar, apalagi kepada selainnya."
Telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Mas'adah] dari [Ibnu Ajlan] dan [Shafwan] dia berkata, telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Ajlan Al Ma'na] dan [Al Qa'qa' bin Hakim] bahwa Abdul Aziz bin Marwan menulis kepada Abdullah bin Umar; "Ungkapkanlah hajatmu kepadaku." (Qa'qa' bin Hakim) berkata; maka [Abdullah bin Umar] pun menulis kepadanya, saya mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Mulakanlah sedekahmu dari kerabat yang menjadi tanggunganmu. Dan tangan yang di atas adalah lebih baik dari tangan yang di bawah." Dan sungguh, saya mempunyai taksiran bahwa tangan yang di atas adalah tangan yang memberi, sedang tangan yang dibawah tangan peminta-minta. Dan saya tidak meminta kepadamu sesuatu pun, tidak pula menolak rezeki yang Allah berikan kepadaku melalui perantaraanmu.
Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Maryam] telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] berkata, telah mengabarkan kepada saya [Zaid] dia adalah putra Aslam dari ['Iyadh bin 'Abdullah] dari [Abu Sa'id Al Khurdri radliallahu 'anhu]; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam keluar menuju lapangan tempat shalat untuk melaksanakan shalat 'Iedul Adhha atau 'Iedul Fithri. Setelah selesai Beliau memberi nasehat kepada manusia dan memerintahkan mereka untuk menunaikan zakat seraya bersabda: "Wahai manusia, bershadaqahlah (berzakatlah) ". Kemudian Beliau mendatangi jama'ah wanita lalu bersabda: "Wahai kaum wanita, bershadaqahlah. Sungguh aku melihat kalian adalah yang paling banyak akan menjadi penghuni neraka". Mereka bertanya: "Mengapa begitu, wahai Rasulullah?". Beliau menjawab: "Kalian banyak melaknat dan mengingkari pemberian (suami). Tidaklah aku melihat orang yang lebih kurang akal dan agamanya melebihi seorang dari kalian, wahai para wanita". Kemudian Beliau mengakhiri khuthbahnya lalu pergi. Sesampainya Beliau di tempat tinggalnya, datanglah Zainab, isteri Ibu Mas'ud meminta izin kepada Beliau, lalu dikatakan kepada Beliau; "Wahai Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, ini adalah Zainab". Beliau bertanya: "Zainab siapa?". Dikatakan: "Zainab isteri dari Ibnu Mas'ud". Beliau berkata,: "Oh ya, persilakanlah dia". Maka dia diizinkan kemudian berkata,: "Wahai Nabi Allah, sungguh anda hari ini sudah memerintahkan shadaqah (zakat) sedangkan aku memiliki emas yang aku berkendak menzakatkannya namun Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak terhadap apa yang akan aku sedekahkan ini dibandingkan mereka (mustahiq). Maka Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Ibnu Mas'ud benar, suamimu dan anak-anakmu lebih barhak kamu berikan shadaqah dari pada mereka".
(Ahmad bin hanbal) berkata; telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] berkata; telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Sulaiman] dari [Abu Wa`il] dari ['Amr bin Al Harits] dari [Zainab, istri Abdullah] berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda kepada para wanita, "Bersedekahlah kalian, walaupun dengan perhiasan kalian!" (Zainab) berkata; "Abdullah adalah orang yang ringan tangannya (suka membantu) ", aku pun berkata kepadanya, "Bolehkan aku bersedekah untukmu atau kepada kaum saudaraku ataupun anak saudaraku yang yatim?." Abdullah menjawab, "Coba tanyakan saja hal itu kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam". (Zainab) berkata; kontan saya temui Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, ketika saya sampai di pintu rumahnya, aku mendapati ada seorang perempuan yang bernama Zainab, kebetulan ia hendak bertanya beliau sebagaimana yang hendak aku tanyakan, lalu Bilal keluar menemui kami. Kami berkata; "Temuilah Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam dan tanyakanlah hal itu kepada beliau, tapi janganlah engkau beritahukan siapa kami sebenarnya." Lalu (Bilal) menemui Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, dan beliau bertanya, "Siapa dua orang perempuan tadi?", Bilal berkata; Zainab. (Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam) bertanya, Zainab yang mana? Dia menjawab, Zainab istri Abdullah dan Zainab wanita Anshar. Beliau menjawab, "Ya, mereka mendapatkan dua pahala, yaitu pahala sedekah dan pahala kekerabatan." (Ahmad bin Hanbal) berkata; telah menceritakan kepada kami [Ibnu Numair] telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] dari [Manshur] dari ['Amr bin Al Harits bin Al Musthaliq] dari [Zainab istri Abdullah] berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam menyuruh kami untuk bersedekah. Beliau bersabda: "Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian", lalu menyebutkan seperti dalam hadis di atas. (Ahmad bin hanbal) berkata; telah menceritakan kepada kami [Abdurrazaq] berkata; telah mengabarkan kepada kami [Sufyan] dari [Al A'masy] dari [Syaqiq] dari ['Amr bin Al Harits bin Al Musthaliq] dari [Zainab] berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Bersedekahlah kalian, wahai kaum wanita", lalu menyebutkannya.
Telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] telah menceritakan kepada kami [Al A'masi] dari [Syaqiq] dari [Amru bin Al Harits bin Al Musthaliq] dari [anak] saudaranya Zainab isterinya Abdullah dari [Zainab] dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berkhutbah kepada kami, beliau bersabda: "Wahai para wanita bersedekahlah walaupun dengan perhiasan kalian, sesungguh kalian adalah penduduk Jahannam yang paling banyak pada hari Kiamat." Zainab berkata, "Abdullah adalah seorang laki-laki yang kurus yang tangannya panjang, lalu aku berkata kepadanya, "Tanyakan untukku pada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam apakah cukup bagiku bersedekah dengan memberi nafkah pada suamiku dan anak-anak yatim yang aku asuh?" Zainab berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah diberi pemberian, " Ibnu Mas'ud lalu berkata, "Pergilah kamu sendiri dan tanyakanlah." Maka aku pun pergi, hingga ketika aku sampai di pintu rumah beliau, ternyata di rumah beliau ada seorang wanita Anshar yang namanya Zainab. Keperluanku seperti keperluannya juga." Zainab berkata, "Bilal kemudian keluar menemui kami." Zainab berkata, "Kami lalu berkata kepadanya, 'Tanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam apakah cukup bagi kami sedekah dengan memberi nafkah kepada suami-suami kami dan anak-anak yatim yang kami asuh? ' lalu Bilal pun masuk menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu dia berkata di pintu, "Ada Zainab!" Beliau bertanya: "Zainab yang mana?" Bilal menjawab, "Zainab isteri Abdullah dan Zainab wanita Anshar. Keduanya bertanya tentang nafkah yang mereka berikan kepada suami-suami mereka dan anak-anak yatim yang mereka asuh, apakah mencukupi sedekah mereka (sah)?" Zinab (isteri Abdullah bin Mas'ud) Berkata, "Lalu Bilal keluar dan kepada kami, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bagi mereka dua pahala, pahala karib kerabat dan pahala sedekah."
Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu Maryam] telah mengabarkan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] berkata, telah mengabarkan kepada saya [Zaid] dia adalah putra Aslam dari ['Iyadh bin 'Abdullah] dari [Abu Sa'id Al Khurdri radliallahu 'anhu]; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam keluar menuju lapangan tempat shalat untuk melaksanakan shalat 'Iedul Adhha atau 'Iedul Fithri. Setelah selesai Beliau memberi nasehat kepada manusia dan memerintahkan mereka untuk menunaikan zakat seraya bersabda: "Wahai manusia, bershadaqahlah (berzakatlah) ". Kemudian Beliau mendatangi jama'ah wanita lalu bersabda: "Wahai kaum wanita, bershadaqahlah. Sungguh aku melihat kalian adalah yang paling banyak akan menjadi penghuni neraka". Mereka bertanya: "Mengapa begitu, wahai Rasulullah?". Beliau menjawab: "Kalian banyak melaknat dan mengingkari pemberian (suami). Tidaklah aku melihat orang yang lebih kurang akal dan agamanya melebihi seorang dari kalian, wahai para wanita". Kemudian Beliau mengakhiri khuthbahnya lalu pergi. Sesampainya Beliau di tempat tinggalnya, datanglah Zainab, isteri Ibu Mas'ud meminta izin kepada Beliau, lalu dikatakan kepada Beliau; "Wahai Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, ini adalah Zainab". Beliau bertanya: "Zainab siapa?". Dikatakan: "Zainab isteri dari Ibnu Mas'ud". Beliau berkata,: "Oh ya, persilakanlah dia". Maka dia diizinkan kemudian berkata,: "Wahai Nabi Allah, sungguh anda hari ini sudah memerintahkan shadaqah (zakat) sedangkan aku memiliki emas yang aku berkendak menzakatkannya namun Ibnu Mas'ud mengatakan bahwa dia dan anaknya lebih berhak terhadap apa yang akan aku sedekahkan ini dibandingkan mereka (mustahiq). Maka Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Ibnu Mas'ud benar, suamimu dan anak-anakmu lebih barhak kamu berikan shadaqah dari pada mereka".
Telah menceritakan kepada kami ['Umar bin Hafsh] telah menceritakan kepada kami [bapakku] telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] telah menceritakan kepada saya [Syaqiq] dari ['Amru bin Al Harits] dari [Zainab] isteri 'Abdullah radliallahu 'anhuma berkata,, lalu dia menceritakannya kepada Ibrahim. Dan diriwayatkan pula, telah menceritakan kepada saya [Ibrahim] dari [Abu 'Ubaidah] dari ['Amru bin Al Harits] dari [Zainab] isteri 'Abdullah radliallahu 'anhua sama seperti ini, berkata,: "Aku pernah berada di masjid lalu aku melihat Nabi Shallallahu'alaihiwasallam. Kemudian Beliau bersabda: "Bershadaqahlah kalian walau dari perhiasan kalian". Pada saat itu Zainab berinfaq untuk 'Abdullah dan anak-anak yatim di rumahnya. Dia ('Amru bin Al Harits) berkata,:; Zainab berkata, kepada 'Abdullah: "Tanyakanlah kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam apakah aku akan mendapat pahala bila aku menginfaqkan shadaqah (zakat) ku kepadamu dan kepada anak-anak yatim dalam rumahku". Maka 'Abdullah berkata,: "Tanyakanlah sendiri kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam ". Maka aku berangkat untuk menemui Nabi Shallallahu'alaihiwasallam dan aku mendapatkan seorang wanita Anshar di depan pintu yang sedang menyampaikan keperluannya seperti keperluanku. Kemudian Bilal lewat di hadapan kami maka kami berkata: "Tolong tanyakan kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, apakah aku akan mendapat pahala bila aku meninfaqkan shadaqah (zakat) ku kepada suamiku dan kepada anak-anak yatim yang aku tanggung dalam rumahku?". Dan kami tambahkan agar dia (Bilal) tidak menceritakan siapa kami. Maka Bilal masuk lalu bertanya kepada Beliau. Lalu Beliau bertanya: "Siapa kedua wanita itu?". Bilal berkata,: "Zainab". Beliau bertanya lagi: "Zainab yang mana?". Dikatakan: "Zainab isteri 'Abdullah". Maka Beliau bersabda: "Ya benar, baginya dua pahala, yaitu pahala (menyambung) kekerabatan dan pahala zakatnya".
Telah menceritakan kepada kami [Hasan bin Rabi'] Telah menceritakan kepada kami [Abul Ahwash] dari [Al A'masy] dari [Abu Wa`il] dari [Amru bin Harits] dari [Zainab] isteri dari Abdullah, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bersedekahlah wahai kaum wanita! Bersedekahlah sekalipun dengan perhiasanmu." Zainab berkata; Mendengar sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tersebut, lalu aku pulang menemui Abdullah -suamiku- seraya berkata kepadanya, "Anda adalah seorang laki-laki yang miskin. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kepada kami kaum wanita agar bersedekah. Cobalah datangi beliau dan tanyakan bolehkah jika aku bersedekah kepada keluarga? Jika tidak akan aku kualihkan kepada yang lain." Abdullah menjawab, "Sebaiknya kamu sajalah yang mendatangi beliau." Maka pergilah aku. Lalu di pintu rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kudapati wanita Anshar yang bermaksud sama denganku. Sebagaimana biasa, orang-orang yang ingin bertemu Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selalu diliputi rasa gentar. Kebetulan Bilal keluar mendapatkan kami. Kata kami kepada Bilal, "Tolonglah kamu sampaikan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa dua wanita sedang berdiri di pintu hendak bertanya, 'Apakah dianggap cukup, jikalau kami berdua bersedekah kepada suami kami masing-masing dan kepada anak-anak yatim yang berada dalam pemeliharaan kami? Dan sekali-kali jangan engkau beritahukan siapa kami.'" Maka masuklah Bilal menanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tetapi beliau balik bertanya: "Siapa kedua wanita itu?" Bilal menjawab, "Seorang wanita Anshar bersama-sama dengan Zainab." Beliau bertanya, "Zainab yang mana?" Bial menjawab, "Zainab isterinya Abdullah." Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Masing-masing mereka mendapat dua pahala. Yaitu pahala (menyambung) karib kerabat dan pahala karena sedekah." Telah menceritakan kepadaku [Ahmad bin Yusuf Al Azdi] Telah menceritakan kepada kami [Umar bin Hafsh bin Ghiyats] Telah menceritakan kepada kami [bapakku] Telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] telah menceritakan kepadaku [Syaqiq] dari [Amru bin Harits] dari [Zainab] isteri Abdullah. Ia berkata; lalu saya menyebutkannya kepada [Ibrahim], maka ia pun menceritakan kepadaku dari [Abu Ubaidah] dari [Amru bin Harits] dari [Zainab] isteri Abdullah dengan hadis semisalnya. Zainab berkata; Suatu ketika saya berada di masjid, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihatku dan bersabda: "Bersedekahlah, meskipun dengan perhiasan kalian." Ia pun menuturkan hadis sebagaimana hadis Abul Ahwash.
Telah menceritakan kepada kami [Al Anshari], telah menceritakan kepada kami [Ma'n] telah menceritakan kepada kami [Malik] dari [Ibnu Syihab] dari [Abu Salamah] dari [Jabir] bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Siapapun orangnya yang diberi sebidang tanah untuknya dan keturunannya, maka pemberian itu untuk orang yang diberinya tidak kembali kepada orang yang memberikannya, karena ia memberikan suatu pemberian termasuk di dalamnya para ahli warisnya." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih, seperti inilah yang diriwayatkan oleh [Ma'mar] dan masih banyak lagi dari [Az Zuhri] seperti riwayat [Malik]. Sebagian mereka meriwayatkan dari Az Zuhri namun tidak menyebutkan dalam hadits itu lafazh wa li'aqabihi. Hadits ini diriwayatkan juga dari jalur lain dari Jabir dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Umra itu boleh diberikan kepada keluarga, namun tidak termasuk keturunannya." Hadits ini hasan shahih dan menjadi pedoman amal menurut sebagian ulama, mereka berpendapat; Jika pemberi berkata; Pemberian ini untukmu selama hidupmu dan untuk keturunanmu, maka pemberian itu untuk orang yang diberikan dan tidak kembali kepada orang pertama. Namun jika pemberi tidak mengatakan untuk keturunannya maka hal itu kembali kepada orang pertama jika orang yang diberi itu meninggal, ini adalah pendapat Malik bin Anas dan Asy Syafi'i. Dan telah diriwayatkan dari jalur lain dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Umra itu boleh diberikan kepada keluarganya." Hadits ini menjadi pedoman amal menurut sebagian ulama, mereka berpendapat; Jika orang yang diberi itu meninggal, maka pemberian itu diberikan kepada ahli warisnya, jika tidak ada maka untuk keturunannya, ini adalah pendapat Sufyan Ats Tsauri, Ahmad dan Ishaq.
Telah menceritakan kepada kami [Rauh] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Juraij] ia berkata; Telah mengabarkan kepadaku [Ya'la] bahwa ia mendengar [Ikrimah] mantan budak Ibnu Abbas berkata; Telah memberitakan kepada kami [Ibnu Abbas] bahwa ibu Sa'ad bin Ubadah telah meninggal dunia sementara ia tidak berada di sampingnya, maka ia datang menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu berkata; Wahai Rasulullah, Sesungguhnya ibuku telah meninggal dunia sementara aku tidak berada di sampingnya, apakah bermanfaat baginya bila aku bersedekah atas namanya? Beliau bersabda: "Ya." Ia berkata; Sesungguhnya aku mempersaksikan kepadamu bahwa kebun kurma ini adalah sedekah atas namanya.
Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Dawud] berkata; telah menceritakan kepada kami [Isma'il] -yaitu Ibnu Ja'far- berkata; telah mengabarkan kepadaku [Al 'Ala`] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah] berkata; Seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, "Sesungguhnya bapakku meninggal dan meninggalkan harta namun tidak berwasiat dengan suatu wasiat, maka apakah dosanya bisa dihapuskan dengan aku bersedekah untuknya?" beliau bersabda: "Ya."
Telah menceritakan kepada kami [Yahya] telah mengabarkan kepada kami [Hisyam], dia berkata; "Telah mengabarkan kepadaku [ayahku] dia berkata; "Telah mengabarkan kepadaku [Aisyah], dia berkata; 'Ada seorang lelaki yang berkata kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam.; 'ibuku meninggal secara mendadak dan setahu saya jika ia sempat berbicara akan bershedekah, maka apakah ia mendapatkan pahala jika saya yang bershodaqoh untuknya? ' Rasulullah bersabda: 'Ya.'"
Telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin Abu Maryam] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] berkata, telah mengabarkan kepada saya [Hisyam bin 'Urwah] dari [Bapaknya] dari ['Aisyah radliallahu 'anha] bahwa ada seorang laki-laki berkata, kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam: "Ibuku meninggal dunia dengan mendadak, dan aku menduga seandainya dia sempat berbicara dia akan bershadaqah. Apakah dia akan memperoleh pahala jika aku bershadaqah untuknya (atas namanya)?". Beliau menjawab: "Ya, benar".
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abdullah bin Numair] Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Bisyr] Telah menceritakan kepada kami [Hisyam] dari [bapaknya] dari [Aisyah] bahwa seorang laki-laki mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam seraya berkata, "Wahai Rasulullah, ibuku meninggal secara tiba-tiba dan ia tidak sempat berwasiat. Menurut dugaanku, seandainya ia sempat berbicara, mungkin dia akan bersedekah. Apakah ia akan mendapatkan pahalanya jika aku bersedekah atas namanya?" beliau menjawab: "Ya." Dan telah menceritakannya kepadaku [Zuhari bin Harb] Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] -dalam jalur lain- Dan Telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib] Telah menceritakan kepada kami [Abu Usamah] -dalam jalur lain- Dan telah menceritakan kepadaku [Ali bin Hujr] telah mengabarkan kepada kami [Ali bin Mushir] Telah menceritakan kepada kami [Al Hakam bin Musa] Telah menceritakan kepada kami [Syu'aib bin Ishaq] semuanya dari [Hisyam] dengan isnad ini. Dan di dalam hadis Abu Usamah; "Namun ia belum berwasiat." Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Bisyr, sementara yang lain tidak menyebutkannya.
Telah menceritakan kepada kami [Musa bin Dawud] dia berkata, telah menceritakan kepada kami [Ibnu Lahi'ah] dari [Yazid bin Abu Habib] dari [Abul Khair] dari [Uqbah bin Amir] ia berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, "Sesungguhnya Ibuku telah meninggal, dan aku ingin bersedekah atas namanya?" Beliau bersabda: "Apakah ibumu memerintahkanmu?" Laki-laki itu menjawab, "Tidak." Beliau bersabda: "Kalau begitu jangan kamu lakukan."
Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Yunus] telah menceritakan kepada kami [Abu Syihab] dari [Ibnu 'Aun] dari [Mujahid] dari [Abdurrahman bin Abu Laila] dari [Ka'b bin Ujrah] mengatakan, aku mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan beliau berkata: "Mendekatlah kesini!" Aku pun mendekat. Nabi bertanya: "Apa kamu merasa terganggu oleh kutumu?" "Iya" jawabku. Nabi bersabda: "Kalau begitu kamu bayar fidyahmu berupa puasa, sedekah atau binatang kurban." Dan telah mengabarkan kepadaku Ibnu 'Aun dari Ayyub dengan redaksi; "Puasa tiga hari, binatang kurban berupa kambing, atau memberi makan enam orang miskin."
Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Hafsh] telah mengabarkan kepada kami [Warqo`] dari [Abu Az Zanad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah], dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus Umar untuk menarik zakat, maka dikatakan bahwa Ibnu Jamil, Khalid bin Walid dan Al 'Abbas paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menolak untuk mengeluarkan zakat, lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Ibnu Jamil tidaklah enggan mengeluarkan zakat, tetapi karena semula ia orang miskin lalu Allah menjadikannya kaya, adapun Khalid, karena kalian menzhaliminya, sungguh dia menyimpan baju besinya untuk ia gunakan berperang di jalan Allah, sedangkan 'Abbas maka zakatnya menjadi tanggunganku, demikian pula zakat yang seperti itu." Kemudian beliau bersabda: "Tidakkah engkau tahu, bahwa paman seseorang adalah pengganti dari bapaknya." Telah menceritakan kepada kami [Dawud bin 'Amru Adh Dhabbi], telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Abu Az Zinad] dari [ayahnya], dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sebagaimana hadis diatas.
Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] telah menceritakan kepada kami [Abu Az Zanad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam memerintahkan untuk menunaikan shadaqah (zakat). Lalu dikatakan kepada Beliau bahwa Ibnu Jamil, Khalid bin Al Walid dan 'Abbas bin 'Abdul Muthalib tidak mau mengeluarkan zakat. Maka Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Apa yang bisa mengingkari Ibnul jamil tidak mengeluarkan zakatnya sebab dahulunya dia faqir namun kemudian Allah dan RasulNya menjadikannya kaya? Adapun Khalid, sungguh kalian telah menzhalimi Khalid, padahal dia telah menghabiskan baju-baju besi dan peralatan perangnya untuk berjuang di jalan Allah. Adapun 'Abbas bin 'Abdul Muthalib dia adalah paman Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, namun demikian dia tetap wajib berzakat dan juga kewajiban lain serupa zakat (sebagai kemuliaan) ". Dan hadits ini diperkuat oleh [Ibnu Abu Az Zinad] dari [Bapaknya], dan [Ibnu Ishaq] berkata dari [Abu Az Zinad]; "Baginya tetap wajib berzakat dan juga kewajiban lain serupa zakat", dan [Ibnu Juraij] berkata; "Telah diriwayatkan kepadaku dari Al A'raj dengan hadits yang serupa.
Dan telah menceritakan kepadaku [Zuhair bin Harb] Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Hafsh] Telah menceritakan kepada kami [Warqa`] dari [Abu Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengutus Umar untuk mengambil sedekah (zakat). Lalu dikatakan: Ibnu Jamil enggan menunaikannya, begitu juga Khalid bin Al Walid dan Al 'Abbas paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun berkata: "Tidaklah Ibnu Jamil kufur nikmat kecuali disebabkan karena dia adalah seorang yang fakir, maka semoga Allah memberinya kecukupan. Adapun Khalid, sungguh kalian telah berlaku lalim terhadapnya, ia telah menyimpan beberapa tamengnya untuk persiapan perang di jalan Allah. Adapun Al Abbas, maka kewajibannya menjadi tanggung jawabku, begitu juga kewajibannya yang lain." Kemudian beliau berkata: "Wahai Umar, tidakkah kamu merasa bahwa sesungguhnya paman seorang lelaki pada hakekatnya seperti bapaknya sendiri?"
Telah menceritakan kepada kami ['Affan] telah menceritakan kepada kami [Wuhaib] telah menceritakan kepada kami [Ayyub] dari ['Amru bin Sa'id] dari [Humaid bin Abdurrahman Al Himyari] dari [tiga orang anak Sa'd] dari [Sa'd], bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam datang menjenguknya ketika dia sedang sakit di Makkah. Kemudian dia berkata; "Wahai Rasulullah, aku khawatir meninggal dunia di bumi yang telah aku tinggalkan, sebagaimana Sa'd bin Khaulah meninggal dunia. Maka Berdo'alah kepada Allah supaya menyembuhkan aku." Beliau berdoa: "ALLAHUMMA ASYFI SA'DAN, ALLAHUMMA ASYFI SA'DAN, ALLAHUMMA ASYFI SA'DAN (Ya Allah sembuhkanlah Sa'd, ya Allah sembuhkanlah Sa'd, ya Allah sembuhkanlah Sa'd) " kemudian Sa'd berkata; "Wahai Rasulullah, aku memiliki harta yang banyak dan tidak ada orang yang akan mewarisiku kecuali seorang anak perempuan, maka apakah aku boleh mewaisatkan seluruh hartaku untuknya?" beliau menjawab; "Tidak" Sa'd bertanya lagi; "Atau aku wasiatkan dua pertiganya?" Beliau menjawab; "Tidak" Sa'd bertanya lagi; "Atau aku wasiatkan setengahnya?" Beliau menjawab; "Tidak" Sa'd bertanya lagi; "Atau aku wasiatkan sepertiganya?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab; "Ya, sepertiga, dan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya nafkah untuk pribadimu dari hartamu adalah sedekah, sesungguhnya nafkahmu (yang kamu berikan) kepada keluargamu adalah sedekah bagimu, sesungguhnya nafkahmu (yang kamu berikan) kepada istrimu adalah sedekah bagimu. Dan sesungguhnya jika kamu meninggalkan keluargamu dengan penghidupan" atau dalam riwayat lain beliau berkata; "Dengan kecukupan adalah lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan meminta-minta kepada manusia."
Telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman] dari [Sufyan] dari [Sa'd] dari ['Amir bin Sa'd] dari [Bapaknya] berkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menemuinya dalam rangka menjenguknya saat di Makkah. Dan dia tidak suka jika dia harus meninggal di tempat yang telah dia tinggalkan. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Semoga Allah merahmati Ibnu 'Afran, semoga Allah merahmati Ibnu 'Afran." Saat itu dia hanya memiliki seorang anak perempuan, lalu dia berkata; "Wahai Rasulullah, apakah aku boleh mewasiatkan semua hartaku?" Beliau menjawab; "Jangan" Sa'd bertanya lagi; "Bagaimana kalau setengah?" Beliau menjawab; "Jangan" Sa'd bertanya lagi; "Bagaimana jika sepertiga?" beliau menjawab: "Sepertiga. Ya sepertiga, tapi itu besar. Sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan fakir, menengadahkan tangan mereka kepada manusia (meminta-minta) apa yang dimiliki mereka. Sesungguhnya walaupun kamu hanya memberi nafkah, itu adalah sedekah, bahkan suapan yang kamu angkat kepada mulut istrimu. Semoga Allah memperpanjang usiamu sehingga ada kaum yang mengambil manfaat darimu sedangkan yang lainnya mendapat mudharat karenamu."
Telah menceritakan kepada kami [Abdurrazzaq] telah menceritakan kepada kami [Ma'mar] dari [Az Zuhri] dari ['Amir bin Sa'd bin Abu Waqqash] dari [Bapaknya] berkata; Kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam Haji Wada', kemudian saya menderita sakit yang hampir mengantarkanku kepada kematian, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjengukku. Saya berkata; "Wahai Rasulullah, aku memiliki harta yang melimpah dan tidak ada yang mewarisiku kecuali seorang anak perempuan. Maka apakah aku boleh mewasiatkan duapertiga hartaku?" Beliau menjawab; "Jangan" saya bertanya lagi; "Bagaimana kalau setengah hartaku?" Beliau menjawab; "Jangan" saya bertanya lagi; "Bagaimana jika sepertiga?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab; "Sepertiga. Ya sepertiga, tapi itu (masih tetap) banyak. Wahai Sa'd, sesungguhnya jika kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan kekurangan dengan menengadahkan tangannya kepada manusia. Wahai Sa'd tidaklah kamu memberi nafkah, dengan (nafkah tersebut) kamu mengharap ridha Allah Ta'ala kecuali akan diberi pahala, bahkan sampai suapan yang kamu angkat kepada mulut istrimu." Sa'd berkata; "Wahai Rasulullah, apakah saya akan dikembalikan lagi (ketempat asal hijrahku) setelah meninggalnya para sahabatku?" Beliau bersabda: "sekali-kali kamu tidak akan dikembalikan (ketempat asal hijrahmu) kemudian kamu beramal dengan niat mencari wajah Allah, kecuali akan bertambah derajat dan keluhuranmu. Bisa jadi kamu dikembalikan lagi sehingga Allah memberikan manfaat denganmu bagi suatu kaum dan memberi mudharat kepada kaum yang lainnya. Ya Allah, teruskanlah bagi sahabat-sahabatku hijrah mereka dan jangan Engkau kembalikan lagi ke belakang. akan tetapi Sa'd bin Khaulah adalah orang yang malang, " Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meratapi Sa'd, dan dia meninggal di Makkah.
Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Az Zuhri] dari ['Amir bin Sa'd] dari [Bapaknya] berkata; Saya mengalami sakit yang sangat berat sekali ketika sedang berada di Makkah pada peristiwa penaklukan kota Makkah, yang hampir sakit tersebut mengantarkanku kepada ajalku. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjengukku, maka saya berkata; "Wahai Rasulullah, aku memiliki harta yang melimpah dan tidak ada yang mewarisiku kecuali seorang anak perempuanku. Maka apakah boleh aku mewasiatkan duapertiga hartaku?" -menurut redaksi yang dibawakan Sufyan, berkata; "bolehkah saya mensedekahkan semua hartaku."- Beliau menjawab; "Jangan" saya bertanya lagi; "Apakah boleh aku sedekahkan duapertiga hartaku." Beliau menjawab; "Jangan." - Saya bertanya; "Bagaimana dengan setengah?" Beliau menjawab; "Jangan" saya bertanya lagi; "Sepertiga?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab; "Sepertiga. Ya sepertiga, tapi itu (masih tetap) besar. Sesungguhnya Kamu jika meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya itu lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dengan menengadahkan tangannya kepada manusia. Sesungguhnya tidaklah sekali-kali kamu memberi nafkah kecuali pasti akan diberi pahala, bahkan sampai suapan yang kamu angkat kepada mulut istrimu." Saya berkata; "Wahai Rasulullah, apakah saya akan dikembalikan lagi (ke Madinah)?"' Beliau bersabda: "Sesungguhnya sekali-kali kamu tidak akan dikembalikan lagi (ketempat asal) hijrahmu setelah sepeninggalku kemudian kamu beramal dengan amalan yang hanya mencari wajah Allah, kecuali akan bertambah derajat dan keluhuranmu. Dan bisa jadi kamu dikembalikan (ke asal hijrahmu) sehingga Allah memberikan manfaat denganmu suatu kaum dan memberi mudharat bagi kaum yang lainnya. Ya Allah, teruskanlah bagi sahabat-sahabatku hijrah mereka dan jangan Engkau kembalikan lagi ke belakang. Tapi yang sangat malang adalah Sa'd bin Khaulah" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meratapinya, dan dia meninggal di Makkah.
Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Numair] telah menceritakan kepada kami [Hisyam] dari [ayahnya] dari [Ibnu 'Abbas], ia berkata; "Andai orang-orang mengurangi (jatah wasiat) dari sepertiga menjadi seperempat, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sepertiga itu banyak."
Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Yusuf] telah mengabarkan kepada kami [Malik] dari [Ibnu Syihab] dari ['Amir bin Sa'ad bin Abu Waqash] dari [bapaknya] radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam pernah mengunjungiku pada hari Haji Wada' (perpisahan) saat sakitku sudah sangat parah, lalu aku berkata: " Sakitku sudah sangat parah (menjelang kematianku) dan aku banyak memiliki harta sedangkan tidak ada yang akan mewarisinya kecuali anak perempuanku. Bolehkah aku menyedekahkan sepertiga dari hartaku ini?. Beliau menjawab: "Tidak boleh". Aku katakan lagi: "Bagaimana kalau setengahnya?". Beliau menjawab: "Tidak boleh". Kemudian Beliau melanjutkan: "Sepertiga dan sepertiga itu sudah besar atau banyak. Sesungguhnya kamu bila meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan (kaya) itu lebih baik dari pada kamu meninggalkan mereka serba kekurangan sehingga nantinya mereka meminta-minta kepada manusia. Dan kamu tidaklah menginfaqkan suatu nafaqah yang hanya kamu hanya niatkan mencari ridha Allah kecuali kamu pasti diberi balasan pahala atasnya bahkan sekalipun nafkah yang kamu berikan untuk mulut isterimu". Lalu aku bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah aku diberi umur panjang setelah sahabat-sahabatku?. Beliau berkata,: "Tidaklah sekali-kali engkau diberi umur panjang lalu kamu beramal shalih melainkan akan bertambah derajat dan kemuliaanmu. Dan semoga kamu diberi umur panjang sehingga orang-orang dapat mengambil manfaat dari dirimu dan juga mungkin dapat mendatangkan madharat bagi kaum yang lain. Ya Allah sempurnakanlah pahala hijrah sahabat-sahabatku dan janganlah Engkau kembalikan mereka ke belakang". Namun Sa'ad bin Khaulah membuat Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersedih karena dia akhirnya meningal dunia di Makkah.
Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Qaza'ah] telah menceritakan kepada kami [Ibrahim] dari [Az Zuhri] dari ['Amir bin Sa'ad bin Malik] dari [bapaknya] berkata; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjengukku pada waktu hajji wada' ketika aku sakit yang tidak menyebabkan kematian. Aku berkata; "Wahai Rasulullah, aku rasakan sakitku semakin parah. Begaimana pendapat anda, aku memiliki banyak harta namun aku tidak memiliki orang yang akan mewarisinya kecuali satu anak perempuanku. Apakah aku boleh mensedekahkan dua pertiga hartaku?". Beliau menjawab: "Tidak". Dia berkata; "Apakah boleh aku bersedekah seperduanya?". Beliau menjawab: "Sepertiga, wahai Sa'ad. Dan sepertiga itu sudah banyak. Sesungguhnya bila kamu meninggalkan keturunanmu dalam keadaan berkecukupan itu lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, lalu mereka mengemis meminta-minta kepada manusia. Dan tidaklah kamu menafkahkan suatu nafaqah (harta) semata-mata mencari wajah (ridla) Allah melainkan Allah pasti akan memberimu balasannya, sekalipun satu suap makanan yang kamu berikan pada mulut istrimu." Aku bertanya; "Wahai Rasulullah, apakah aku diberi umur panjang setelah shahabat-shahabatku?. Beliau bersabda: "Tidaklah sekali-kali engkau diberi umur panjang lalu kamu beramal shalih melainkan akan bertambah derajat dan kemuliaanmu. Dan semoga kamu diberi umur panjang sehingga orang-orang dapat mengambil manfaat dari dirimu dan juga mungkin dapat mendatangkan madlorot bagi kaum yang lain. Ya Allah sempurnakanlah pahala hijrah shahabat-shahabatku dan janganlah Engkau kembalikan mereka ke belakang." Namun Sa'ad bin Khaulah membuat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersedih karena dia meningal di Makkah. [Ahmad bin Yunus] dan [Musa] berkata dari [Ibrahim] dengan redaksi; "…Kamu meninggalkan warisanmu."
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Katsir] Telah mengabarkan kepada kami [Sufyan] dari [Sa'd bin Ibrahim] dari [Amir bin Sa'd] dari [Sa'd] radliallahu 'anhu ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengunjungiku ketika aku jatuh sakit di Makkah. Kukatakan pada beliau, "Sesungguhnya aku memiliki harta. Haruskah aku mewasiatkan seluruhnya?" beliau menjawab: "Tidak." Aku bertanya lagi, "Ataukah setengah darinya?" beliau menjawab: "Tidak." Aku bertanya lagi, "Ataukah sepertiga darinya?" beliau menjawab: "Ya, sepertiga. Namun sepertiga adalah sesuatu yang banyak. Lebih baik bila kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin dan mengharap-harap apa yang ada di tangan manusia. Dan seagala yang kamu infakkan, maka hal itu adalah sedekah bagimu, bahkan termasuk sesuap makanan yang kamu suapkan pada bibir isterimu. Dan semoga Allah mengangkat derajatmu sehingga banyak orang mengambil manfaat darimu dan yang lain mendapat madharrat."
Telah menceritakan kepada kami [Al Humaidi] telah menceritakan kepada kami [Sufyan] Telah menceritakan kepada kami [Az Zuhri] mengatakan; telah mengabarkan kepadaku [Amir bin Sa'd bin Abi Waqqash] dari [ayahnya] mengatakan; Aku pernah sakit parah di Makkah hingga rasanya berada di ujung kematian. Kemudian Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam menjengukku. Maka Saya bertanya; 'Wahai Rasulullah, saya mempunyai harta yang melimpah ruah, dan tak ada yang mewarisiku selain anak perempuanku bagimana kalau aku sedekahkan dua pertiganya? ' Nabi menjawab: "jangan". Saya bertanya lagi; 'Bagaimana kalau separoh? ' Nabi menjawab: "jangan". Saya tanyakan lagi; 'Bagaimana kalau sepertiganya? ' Nabi menjawab: "Sepertiga itu banyak, Sesunguhnya jika engkau tinggalkan anakmu dalam keadaan berkecukupan, itu lebih baik bagimu daripada kamu tinggalkan mereka dengan kondisi papa sehingga meminta-minta kepada orang lain, dan sekali-kali tidaklah engkau memberi nafkah, melainkan kamu diberi pahala sampai berupa suapan yang engkau angkat kedalam mulut isterimu." Maka saya berkata; 'Wahai Rasulullah, apakah aku tetap tinggal (di Makkah dan meninggalkan) hijrahku? ' Nabi menjawab: "Sekali-kali kamu tidak akan tertinggal setelahku kemudian kamu beramal shalih dengan mengharap wajah Allah kecuali akan menambah bagimu ketinggian dan derajat, Bisa jadi dengan kamu tetap tinggal (di Makkah) setelahku akan mendatangkan manfaat bagi suatu kaum dan mencelakakan yang lainnya." tetapi nasib tragis menimpa Sa'ad bin Khaulah yang menemui ajalnya di Makkah. Rasulullah Shalla Allahu 'alaihi wa sallam sempat memintakan rahmat dan ampunan untuknya. Sufyan mengatakan ' Sa'd bin Khaulah adalah laki-laki dari bani Amir bin Lu`ai.
Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Abu 'Umar]; telah menceritakan kepada kami [Sufyan bin 'Uyainah] dari [Az Zuhri] dari ['Amir bin Sa'd bin Abu Waqqash] dari [bapaknya] dia berkata; Pada tahun Fathu Makkah, aku tertimpa sakit dan aku merasa akan mengalami kematian. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun menjengukku, maka aku pun berkata pada beliau, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku memiliki harta yang banyak, sedangkan tidak ada orang yang akan mewarisiku kecuali anak perempuanku seorang diri. Apakah aku harus berwasiat dengan hartaku seluruhnya?" beliau menjawab: "Tidak." Aku berkata, "Atau duapertiga darinya?" Beliau menjawab: "Tidak." Aku berkata lagi, "Atau setengahnya?" beliau menjawab: "Tidak." Aku berkata lagi, "Kalau begitu, sepertiga darinya?" Akhirnya beliau bersabda: "Sepertiga. Namun, sepertiga adalah jumlah yang banyak. Sesungguhnya, bila kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan adalah lebih baik daripada kamu meninggalkan mereka dalam keadaan fakir dan meminta-minta kepada manusia. Dan tidaklah kamu menginfakkan sesuatu pun, kecuali kamu akan diberi ganjaran pahala, hingga sesuap makanan yang kamu suapkan pada mulut isterimu." Lalu aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah aku telah ditinggalkan dari hijrahku?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya, kamu tidak akan ditinggalkan setelahku, sehingga kamu mengerjakan amalan yang dengannya kamu mengharap wajah Allah, sehingga membuat derajatmu (di sisi-Nya) semakin tinggi. Dan semoga sepeninggalmu setelahku nanti, orang-orang dapat mengambil manfaat darimu, dan yang lain mendapat kecelakaan. Ya Allah, terimalah hijrah para sahabatku, dan janganlah Engkau tolak akan kesudahan mereka." Akan tetapi Al Ba`is Sa'd bin Khaulah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mewarisinya, agar ia dapat meninggal di Makkah. Abu Isa berkata; Hadits semakna juga diriwayatkan dari Ibnu Abbas. Ini adalah hadits Hasan Shahih. Dan hadits ini telah diriwayatkan pula oleh lebih dari satu orang perawi dari Sa'd bin Abu Waqhas. Menurut Ahli imu, hadits ini diamalkan, yakni, seorang laki-laki tidak boleh mewasiatkan lebih dari sepertiga hartanya. Sedangkan sebagian ulama, adalah suatu hal yang Mustahab (sunnah) bila wasiat kurang dari sepertiga, berdasarkan Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Dan sepertiga itu, merupakan jumlah yang banyak."
Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin 'Amr bin As Sarh], telah menceritakan kepada kami [Ibnu Wahb], dari [Haiwah bin Syuraih], dan [Ibnu Luhai'ah], dari [Yazid bin Abu Habib], dari [Aslam Abu Imran], ia berkata; kami pergi berperang dari Madinah menuju Al Qusthanthiniyyah, dan kami dipimpin oleh Abdurrahman bin Khalid bin Al Walid, sementara orang-orang Romawi menempelkan punggung mereka pada dinding kota. Kemudian terdapat seseorang yang menyerbu musuh, lalu orang-orang berkata; tahan, tahan! Laa ilaaha illah, ia telah melemparkan dirinya kepada kebinasaan. Kemudian [Abu Ayyub] berkata; sesungguhnya ayat ini turun mengenai kami, orang-orang anshar. Tatkala Allah membela Nabinya dan memenangkan Islam kami berkata; mari kita mengurusi harta kita dan memperbaikinya. Kemudian Allah ta'ala menurunkan ayat: "Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan." Menjatuhkan diri sendri ke dalam kebinasaan adalah mengurusi harta kami dan memperbaikinya serta meninggalkan jihad. Abu Imran berkata; Abu Ayyub terus berjihad di jalan Allah hingga ia dikuburkan di Qusthanthiniyyah.
Telah menceritakan kepada kami ['Abd bin Humaid] telah menceritakan kepada kami [Adl Dlahhaq bin Mujalid] dari [Haiwah bin Syuraih] dari [Yazid bin Abu Habib] dari [Aslam Abu Imran At Tujibi] ia berkata; "Ketika kami berada di kota Romawi, orang-orang Romawi mengeluarkan pasukan dengan jumlah barisan yang sangat besar untuk menghadapi kami, maka keluarlah sebagaian dari kaum muslimin untuk melawan mereka seperti jumlah mereka atau lebih banyak, orang-orang dari Mesir dipimpin 'Uqbah bin Amir, sedangkan semua pasukan dipimpin oleh Fadlalah bin 'Ubaid, kemudian seorang lelaki dari kaum muslimin keluar, dan menerobos ke barisan orang-orang Romawi, namun orang-orang berteriak dan mengatakan: "Subhanallah, dia telah menjerumuskan dirinya kepada kebinasaan." Maka bangkitlah [Abu Ayyub Al Anshari] dan berkata; "Wahai manusia, sesungguhnya kalian telah menakwilkan ayat ini seperti ini, hanyasannya ayat ini diturunkan kepada kami orang-orang Anshar, ketika Allah memuliakan kami dengan Islam dan banyak penolongnya, kemudian sebagian dari kami berbisik kepada yang lain tanpa diketahui oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, yaitu; "Sesungguhnya harta-harta kita telah hilang dan sesungguhnya Allah telah memuliakan Islam dan banyak penolongnya, bagaimana jika kita mengurusi harta kita dan memperbaiki yang hilang, " maka Allah menurunkan ayat kepada NabiNya shallallahu 'alaihi wasallam sebagai jawaban kepada kami atas apa yang telah kami katakan: "Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan". QS Al-Baqarah: 195. At Tahlukah dalam ayat ini maksudnya Al Iqamah (menetap) mengurusi masalah harta dan memperbaikinya, kemudian kita meninggalkan perang." Abu Ayyub terus menerus maju bergerak berjihad di jalan Allah sampai ia di kebumikan di bumi Romawi." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih gharib.
Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari [Ja'far bin Muhammad] dari [Bapaknya] ia berkata; " [Fatimah] puteri Rasulullah Shalla Allahu 'alaihi wa sallam pernah menimbang rambut Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kultsum, lalu mensedekahkan perak yang sama dengan berat timbangan rambut tersebut."
Telah menceritakan kepada kami [Sufyan] dari [Manshur] dari [Dzarr] dari [Wa`il bin Mahanah] dari [Abdullah bin Mas'ud] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bersedekahlah kalian wahai para kaum wanita. meskipun dari perhiasan kalian sebab kalian merupakan penghuni neraka yang paling banyak." Lalu seorang wanita yang bukan tokoh wanita bertanya; Mengapa demikian wahai Rasulullah? Beliau menjawab: "Karena kalian banyak mencela dan tidak menghargai kebaikan suami."
Telah menceritakan kepada kami [Yazid] telah mengabarkan kepada kami [Sufyan bin Sa'id] dari [Abdurrahman bin 'Abis] ia berkata; Aku mendengar [Ibnu Abbas] ditanya; Apakah engkau menyaksikan Id bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam? Ia menjawab; Ya, dan seandainya bukan karena kekerabatanku darinya, tentu aku tidak akan menyaksikannya sejak kecil, beliau shalat dua rakaat kemudian berkhutbah, lalu mendatangi bendera yang berada di kediaman Katsir bin Ash Shalt, maka beliau menasihati kaum wanita dan mengingatkan serta menyuruh mereka untuk bersedekah. Maka (tangan) mereka menjangkau telinga dan leher mereka, lalu mereka bersedekah dengannya. Ia berkata; Lalu mereka menyerahkannya kepada Bilal.
Telah menceritakan kepada kami [Abdurrazaq] telah mengabarkan kepada kami [Sufyan] dari [Manshur] dan [Al A'masy] dari [Dzarr] dari [Wa`il bin Mahanah] dari [Ibnu Mas'ud] ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberi ceramah kepada kami seraya mengatakan: "Bersedekahlah kalian wahai sekalian wanita, karena kalian paling banyak menjadi penghuni neraka Jahannam pada hari kiamat." Maka berdirilah seorang wanita bukan dari wanita terhormat seraya bertanya; Wahai Rasulullah, mengapa kami paling banyak menjadi penghuni neraka Jahannam? Beliau bersabda: "Karena kalian paling banyak melaknat dan mengingkari kepada suami."
Telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] dari [Dzarr] dari [Wa`il bin Bahdalah] dari [Abdullah] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai sekalian wanita, bersedekahlah kalian walaupun dengan perhiasan kalian, karena kalian paling banyak menjadi penghuni neraka Jahannam pada hari kiamat." Ia melanjutkan; Maka berdirilah seorang wanita bukan dari wanita terhormat seraya bertanya; Wahai Rasulullah, karena apa kami paling banyak menjadi penghuni neraka Jahannam pada hari kiamat? Ia berkata; Beliau bersabda: "Karena kalian paling banyak melaknat dan mengingkari kepada suami."
Telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Al Mas'udi] dari [Al Hakam] dari [Dzarr] dari [Wa`il bin Mahanah At Taimi] dari [Abdullah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Bersedekahlah kalian wahai sekalian wanita, karena kalian paling banyak menjadi penghuni neraka." Maka seorang wanita bertanya; Wahai Rasulullah, mengapa kami paling banyak menjadi penghuni neraka? Beliau bersabda: "Karena kalian paling banyak melaknat dan mengingkari suami."
Telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari [Ubaidillah] telah menceritakan kepadaku [Khubaib bin Abdurrahman] dari [Hafsh bin 'Ashim] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tujuh golongan yang Allah akan naungi dengan naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya; imam (pemimpin) yang adil, pemuda yang tumbuh dalam peribadatan kepada Allah, seorang yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah 'azza wajalla mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, seorang yang bersedekah dengan sembunyi-sembunyi hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya, seorang yang berdzikir kepada Allah dikeheningan hingga kedua matanya meneteskan air mata, dan seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita cantik berkedudukan lalu ia berkata; aku takut kepada Allah 'azza wajalla."
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basysyar Bundar] berkata, telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari ['Ubaidullah] berkata, telah menceritakan kepadaku [Khubaib bin 'Abdurrahman] dari [Hafsh bin 'Ashim] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan 'ibadah kepada Rabbnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, 'Aku takut kepada Allah', dan seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri hingga kedua matanya basah karena menangis."
Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] telah menceritakan kepada kami [Yahya] dari ['Ubaidullah] berkata, telah menceritakan kepada saya [Khubaib bin 'Abdurrahman] dari [Hafsh bin 'Ashim] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Ada tujuh (golongan orang beriman) yang akan mendapat naungan (perlindungan) dari Allah dibawah naunganNya (pada hari qiyamat) yang ketika tidak ada naungan kecuali naunganNya. Yaitu; Pemimpin yang adil, seorang pemuda yang menyibukkan dirinya dengan 'ibadah kepada Rabnya, seorang laki-laki yang hatinya terpaut dengan masjid, dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, keduanya bertemu karena Allah dan berpisah karena Allah, seorang laki-laki yang diajak berbuat maksiat oleh seorang wanita kaya lagi cantik lalu dia berkata, "aku takut kepada Allah", seorang yang bersedekah dengan menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, dan seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah dengan mengasingkan diri sendirian hingga kedua matanya basah karena menangis".
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Salam] telah mengabarkan kepada kami [Abdullah] dari [Ubaidillah bin Umar] dari [Khubaib bin Abdurrahman] dari [Hafsh bin 'Ashim] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; "Ada tujuh golongan yang Allah melindungi mereka dalam lindungan-NYA pada hari kiamat, di hari ketika tiada perlindungan selain perlindungan-NYA, yaitu; imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah, seseorang yang senantiasa mengingat Allah saat sendiri sehingga matanya berlinang, seseorang yang hatinya selalu terkait dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, seseorang yang diajak berkencan oleh wanita bagsawan dan rupawan, namun ia menjawab; 'Saya takut kepada Allah', serta seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak tahu menahu terhadap amalan tangan kanannya."
Telah menceritakan kepadaku [Zuhair bin Harb] dan [Muhammad bin Al Mutsanna] semuanya dari [Yahya Al Qaththan] - [Zuhair] berkata- Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] dari [Ubaidullah] telah mengabarkan kepadaku [Khubaib bin Abdurrahman] dari [Hafsh bin Ashim] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya. Yaitu; Seorang imam yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah yang mereka berkumpul karena-Nya dan juga berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang dirayu oleh wanita bangsawan lagi cantik untuk berbuat mesum lalu ia menolak seraya berkata, 'Aku takut kepada Allah.' Dan seorang yang bersedekah dengan diam-diam, sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya. Dan yang terakhir adalah seorang yang menetes air matanya saat berdzikir, mengingat dan menyebut nama Allah dalam kesunyian." Dan telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Yahya] ia berkata, saya telah membacakan kepada [Malik] dari [Khubaib bin Abdurrahman] dari [Hafsh bin Ashim] dari [Abu Sa'id Al Khudri] atau dari [Abu Hurairah] bahwa ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; yakni serupa dengan hadis Ubaidullah, dan ia juga mengatakan; "Dan seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, bila ia keluar darinya hingga ia kembali."
Situs ini menggunakan cookie untuk meningkatkan pengalaman Anda dan menayangkan iklan. Dengan terus menggunakan situs ini, Anda menyetujui penggunaan cookie. Kebijakan Privasi